HIV/AIDS di NTB Capai 1.865 Kasus

Ilustrasi HIV/AIDS (Sumber Foto: Needpix)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Penemuan kasus HIV/AIDS di NTB terus meningkat. Pada 2019 ini, angkanya secara kumulatif sudah mencapai 1.865 kasus.  Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi NTB menyebut, peningkatan penemuan kasus HIV/AIDS sangat drastis di Kabupaten Bima dan Kota Bima.

‘’Di Bima itu sudah lebih dari 100 kasus. Padahal dulu tahun 2018 cuma 50 kasus. Di Kota Bima sudah ada 60 kasus lagi. Peningkatannya tertinggi di sana. Harus diantisipasi,’’ kata Sekretaris KPA Provinsi NTB, Soeharmanto, SH dikonfirmasi Suara NTB, Senin, 25 November 2019 kemarin.

Ia menyebutkan secara kumulatif kasus HIV-AIDS di NTB sampai 2019 sebanyak 1.865 kasus. Angka ini meningkat dibandingkan 2018 sebanyak 1.640 kasus. Pada 2019 saja, penemuan kasus HIV/AIDS di NTB sebanyak 225 kasus.

Soeharmanto mengatakan, penemuan kasus HIV/AIDS di NTB baru sekitar 63 persen. Diperkirakan kasus HIV/AIDS di daerah ini mencapai 3.090 kasus. ‘’Sisanya terus kita cari,’’ujarnya.

Ditanya sebaran kasus HIV/AIDS terbanyak di NTB, Soeharmanto menyebutkan Kota Mataram masih tertinggi. Disusul Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat. Tingginya penemuan kasus HIV/AIDS di Kota Mataram, kata Soeharmanto akibat banyak penderita dari luar Kota Mataram  yang melakukan pengecekan di fasilitas kesehatan yang ada.

“Misalnya dari Lombok Tengah mau periksa di sana, mereka khawatir jangan-jangan dilihat orang yang dikenalnya. Sehingga mereka melakukan pemeriksaan di Kota Mataram,” terangnya.

Yang cukup mengejutkan, katanya peningkatan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Bima dan Kota Bima cukup drastis. Tingginya mobilitas masyarakat ke luar daerah. Kemudian berhubungan seks dengan orang lain diduga menjadi pemicu meningkatnya kasus HIV/AIDS di Bima.

Untuk itu, perlu diperbanyak sosialisasi kepada remaja berusia 15-24 tahun. Yakni, remaja sejak kelas III SMP sampai mahasiswa perlu dilakukan sosialisasi yang masif. Soeharmanto juga mengatakan, khusus di Kota Mataram banyak ditemukan hubungan seks sesama jenis laki-laki sama laki-laki.

Hubungan seksual sesama jenis ini menjadi penyumbang kedua kasus HIV/AIDS di NTB. Pada tahun sebelumnya, kata Soeharmanto, penumbang pertama adalah heteroseksual dan kedua adalah penggunaan jarum suntik. Sekarang, penggunaan jarum suntik hampir sudah tidak ada.

‘’Tapi hubungan sejenis banyak. Sebenarnya harus kita rangkul mereka, melalui sosialisasi. Makanya harus diberikan sosialisasi kepada remaja. Kalau tidak maka menjadi ancaman bagi generasi emas NTB.  Makanya kita harus masuk ke sekolah-sekolah,’’ katanya. (nas)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.