Perbaikan Gizi, Solusi Masalah Kesehatan di NTB

Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Perbaikan gizi disebut menjadi salah satu solusi untuk masalah kesehatan yang terjadi di NTB. Pasalnya berkaca dari peningkatan jumlah penderita, khususnya untuk penyakit tidak menular, sebagian disebabkan oleh masalah asupan gizi sejak masih dalam kandungan.

“Jadi kita berharap semua generasi itu mulai yang bayi sampai tua harus sehat kalau mau dijadikan Indonesia yang unggul, sehat dan produktif,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A, M.PH dikonfirmasi, Jumat, 15 November 2019 di Mataram.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan bantuan seperti multivitamin untuk ibu hamil yang kekurangan gizi, serta bantuan dari UNICEF untuk pemberian makanan khusus bagi anak anak gizi buruk dalam perayaan Hari Kesehatan Nasional (HKN) beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Peserta BPJS Diperkirakan Banyak Turun Kelas

Menurutnya, saat ini beberapa jenis penyakit tidak menular yang menempati posisi tertinggi untuk jumlah penderita adalah hipertensi, stroke, dan diabetes. “Itu kan tidak tiba-tiba munculnya. Genetik sekian persen, tapi juga ada masalah-masalah yang terjadi saat dia masih balita, yang kecilnya gizi buruk, prematur dan lain-lain,” ujarnya.

Di NTB sendiri, kasus stunting yang utamanya disebabkan oleh gizi buruk masih menjadi pekerjaan rumah. Menurutnya, bentuk intervensi khusus memang harus dikedepankan untuk mengentaskan masalah-masalah kesehatan tersebut.

“Sekarang anak-anak itu harus kita berikan makanan yang bergizi. Bukan tidak mampu orangtua itu beli, tapi masalahnya tidak tahu,” tegasnya.

Dicontohkannya, seperti pemberian makanan bergizi semisal tahu dan tempe, di mana orang tua lebih cenderung memilih memberi makan anak-anak dengan kudapan dalam bentuk kemasan yang sangat rendah dari segi gizi.

Baca juga:  Sebaran Dokter Spesialis Hanya Terkonsentrasi di Kota Mataram

Untuk NTB sendiri dari 100.000 lebih anak, disebut masih ada 25% yang mengalami kurang gizi. Yaitu kelompok anak yang sangat rentan masuk ke dalam gizi buruk. Untuk mengatasi hal tersebut, peran Posyandu disebut menjadi penting. Khususnya melalui program revitalisasi yang dilakukan Pemprov NTB saat ini.

Dengan mengaktifkan posyandu, diharapkan orangtua lebih awas dalam memperhatikan kondisi gizi anak. “Di Posyandu kelihatan kalau dia sudah mulai ke kuning, lama-lama harus sudah mulai waspada orangtuanya,” ujarnya, seraya menambahkan, dalam peringatan HKN 2019 Dikes NTB juga sempat mengadakan program kelas gizi balita di 172 puskesmas seluruh NTB. (bay)