Dokter Sapto Ciptakan Aplikasi Deteksi Cepat Gizi Buruk dan Stunting

Sapto Sutardi bersama Kepala UPT BLUD PKM Sekotong, Nyoman Adyana Putra menunjukkan aplikasi "dr.SaptoAnthro"

Giri Menang (Suara NTB) – Sapto Sutardi, salah seorang dokter yang bertugas di UPT Puskesmas Sekotong mampu menciptakan aplikasi untuk mendeteksi gizi buruk dan stunting secara cepat, mudah dan akurat. Dengan aplikasi ini, masyarakat dengan mudah mengetahui status gizi anaknya. Apakah terkena stunting ataukah gizi buruk.

Berkat aplikasi yang diciptakannya tersebut, dokter yang hanya berstatus tenaga kontrak tersebut berhasil menjadi juara di tingkat nasional. Pria lulusan Kedokteran Unram ini pun berharap bisa ikut tes seleksi CPNS melalui jalur khusus tahun ini.

Ditemui di tempat kerjanya di Puskesmas Sekotong, dr. Sapto bersama Kepala UPT BLUD, Nyoman Adyana Putra menuturkan bahwa aplikasi yang disebut  “dr.SaptoAnthro”  pertama kali dibuat 2009. Kemudian berkembang lagi menyesuaikan dengan hand phone baru. Lalu dikembangkan lagi pada saat pria yang hobi fotografer ini bekerja di Puskesmas Sekotong sebagai tenaga kontrak.

“Aplikasi ini untuk mempermudah, mempecepat, meningkatkan akurasi penemuan dan intervensi status gizi Balita di Posyandu dengan menggunakan handphone,” jelas dia.

Aplikasi ini dikembangkan lagi karena ia menemukan kendala rekan – rekan medis salah satunya sulitnya melakukan penilaian status gizi. Karena itu ia pun membagi aplikasi yang sudah dibuat tersebut. Kalau sulit melakukan status gizi, maka bagiamana mungkin melibatkan masyakarat mengetahui kondisi anaknya dalam kondisi gizi buruk dan stunting. “Karena itu,  saya tergerak untuk melibatkan masyakarat untuk meningkatkan pelaporan status gizi melalui aplikasi ini. Akhirnya peningkatan penemuan kasus gizi itu dua kali lebih cepat,” jelas dia.

Pihaknya pun melakukan pengujian  kepada petugas gizi dan ibu rumah tangga. Pengujian objektif menunjukkan, jika petugas menggunakan aplikasi ini, 7 kali lebih cepat, dan kesalahan perhitungan 0%. Pengujian subjetif persepsi petugas gizi dengan Wilcoxon, didapatkan perbedaan signifikan aplikasi dibandingkan manual untuk melakukan kemudahan perhitungan z-score (p=0,007), penentuan status gizi (p=0,006), dan kecepatan perhitungan (p=0,011). Pengujian persepsi ibu rumah tangga didapatkan aplikasi ini mudah-sangat mudah digunakan pada 96% reponden. Diantara respondenya ada 4% tidak tamat SD, tetapi bisa membaca.

Dari monitoring dan evaluasi ini menunjukkan, siapapun bisa menggunakan aplikasi ini yang penting bisa membaca dan menggunakan hand phone. Dengan menngunakan aplikasi ini,  terjadi peningkatan temuan kasus gizi buruk dua kali lipat dari tahun sebelumnya melalui pelibatan masyarakat. Dan kecepatan perbaikan gizi oleh dokter dan petugas gizi meningkat dua kali lipat.  Karena masyarakat dapat terlibat langsung dalam screening awal kasus stuting atau gizi kurang dan gizi buruk.

Bagaimana rencananya kedepan?  Dokter yang miliki beragam hobi ini mengaku akan tetap ikut tes seleksi CPNS. Namun,  ia berharap agar bisa ikut jalur khusus. “Saya berharap ada kesempatan tes CPNS jalur khusus, kalau ndak ada yang bersaing normal,” ujar dia.

dr Sapto sendiri hampir 2 tahun lebih menjadi tenaga kontrak. Dokter yang juga memiliki hobi youtober ini juga berencana melanjutkan pendidikan S2 mengambil radiologi. Kepala UPT BLUD PKM Sekotong,  Nyoman Adyana Putra mengatakan latar belakang penerapan aplikasi dr.  Sapto karena penemuan dan penjaringan kasus gizi di wilayah kerja PKM Sekotong rendah dan kondisi geografis yang jauh-jauh serta keterbatasan petugas. “Akhirnya latar belakang tersebut kita terapkan aplikasi ini, ” jelas dia.

Menurut dia, inovasi dr.  Sapto akan dievaluasi untuk menjaga keberlanjutan penerapannya. Selain aplikasi ini, pihaknya juga memiliki inovasi lain ke depan. Melalui aplikasi ini, efisiensi waktu karena  kecepatan melakukan pendeteksian penjaringan lebih cepat dan memudahkan petugas.  Setelah diterapkan,  aplikasi ini banyak kasus yang sebelumnya belum mampu terjaring dan ditemukan petugas, mampu dideteksi oleh ibu – ibu rumah tangga. “Itulah intinya aplikasi ini adalah wujud dari penggerakan dan kemandirian masyakarat, seperti visi kami memandirikan masyakarat,” ujar dia. Ia  berharap agar aplikasi ini mampu diterapkan di semua puskesmas di Lobar. Ke depan,  ia juga berencana mematenkan temuan inovasi aplikasi dr.  Sapto tersebut. (her)