Dinas Kesehatan NTB Bertekad Jadi Contoh Gerakan “Zero Waste”

Dinas Kesehatan NTB mendukung dan bertekad menyukseskan gerakan zero waste. Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi foto bersama dengan pegawai dan duta zero waste Dinas Kesehatan NTB. (Suara NTB/ist)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dikes) NTB mendukung penuh gerakan zero waste yang sedang digalakkan Pemprov NTB. Dikes NTB bertekad menjadi contoh bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam gerakan zero waste.

Duta Zero Waste Dikes NTB, I Made Parnaya mengatakan, Dinas Kesehatan merupakan institusi kesehatan. Sehingga, paling tidak harus menjadi contoh OPD-OPD lainnya.

‘’Itu komitmen Dinas Kesehatan, kami  ingin menjadi contoh untuk gerakan zero waste. Paling tidak mulai dari kami. Artinya, mulai dari semua karyawan-karyawati  Dinas Kesehatan Provinsi NTB,’’ kata Parnaya dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 23 Oktober 2019 sore.

Parnaya mengatakan, pihaknya ingin mengubah mindset terkait dengan pengelolaan sampah. Bagaimana, agar seluruh karyawan/karyawati nantinya beralih ke gaya hidup zero waste.  ‘’Ini yang sedang kita upayakan. Sejak dicanangkan NTB zero waste, kita sudah melakukan kegiatan-kegiatan zero waste,’’ ujarnya.

Upaya yang dilakukan seperti sosialisasi mengenai pemilahan sampah yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Tujuannya, agar sampah gampang dikelola. Kemudian mengkampanyekan penggunaan tumbler atau wadah atau gelas minum yang dapat dipakai berkali-kali. Tujuannya, untuk mengurangi penggunaan air botol kemasan.

Kemudian, ketika rapat tidak lagi menggunakan bungkus makanan kotak. Selain itu, di setiap ruangan sudah disiapkan air galon. ‘’Yang tidak membawa tumbler, kita siapkan gelas,’’ paparnya.

Untuk pengelolaan sampah di lingkungan Dikes NTB, Parnaya mengatakan pascamendapatkan pelatihan dan pendidikan (Diklat) sebagai duta zero waste, ia mengaku sudah paham mengenai pengelolaan sampah. Sampah organik dapat dijadikan kompos. Ia menjelaskan banyak cara yang dilakukan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.

Pertama, sistem pengomposan dengan biopori. Ke dua, kompos juga bisa buat dengan cara kasturi. Ke tiga, dengan cara takakura. Dan terakhir, sistem komposter. Untuk menghasilkan pupuk  kompos cair.

‘’Sisa makanan, sisa sayuran, kulit buah dan sebagainya tidak usah dibuang. Kita masukkan ke komposter, diberi bioaktivator dia akan menghasilkan pupuk cair. Sehingga, semua sampah tidak akan yang terbuang,’’ ujarnya.

Sedangkan untuk sampah plastik, seperti bekas bungkus permen, bungkus kopi sachet juga dapat dibuat menjadi barang berharga. Sampah plastik tersebut dimasukkan dalam bekas botol air mineral yang dinamakan ecobrick. Hasilnya, selain dapat digunakan menghias taman, dibuat menjadi tempat duduk, juga bisa dijual ke bank sampah.

‘’Sejak dicanangkan gerakan zero waste, semua OPD melaksanakan. Kami Dinas Kesehatan bertekad menjadi contoh gerakan zero waste,’’ katanya.

NTB Zero Waste merupakan salah satu program unggulan Pemprov NTB. Program ini telah dicanangkan pada pertengahan Desember 2018. Kehidupan di masyarakat dengan barang-barang yang sekali pakai. Sehingga tidak dapat dihindari menumpuknya volume sampah yang dapat menyebabkan lingkungan tidak sehat.

Tanpa disadari, tempat pembuangan sampah mulai meluap, sungai, laut dan lingkungan jadi tercemar. Tumpukan sampah di TPA terlihat begitu banyak. Faktanya, sebagian sampah tersebut adalah sampah plastik dan sampah lainnya yang tidak mudah terurai dan membutuhkan waktu  puluhan bahkan ratusan tahun untuk mengurainya.

Parnaya mengatakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jenna R. Jambeck dari University of Georgia, pada tahun 2010, ada 275 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di seluruh dunia. Sekitar 4,8-12,7 juta ton diantaranya terbuang dan mencemari laut.

Indonesia konon sebagai penyumbang sampah plastik kedua terbesar di dunia setelah China. Dengan populasi pesisir sebesar 187,2 juta yang setiap tahunnya menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tak terkelola dengan baik. Sekitar 0,48-1,29 juta ton dari sampah plastik tersebut diduga mencemari lautan.

Kini,  gerakan zero waste benar-benar diperlukan untuk menjaga masa depan ekosistem. Di masyarakat, tidak mudah untuk tidak menghasilkan sampah karena hampir semua aktivitas manusia dalam keseharian menghasilkan sampah. Tidak mudah menemukan makanan tanpa plastik di supermarket walaupun itu sayur dan buah.

Parnaya mengatakan, zero waste adalah filosofi yang dijadikan sebagai gaya hidup demi mendorong siklus hidup sumber daya. Sehingga produk-produk bisa digunakan kembali, menempatkan sampah bukan  sebagai musibah tapi sampah adalah sumber daya. Zero waste juga soal menjauhi single use plastic atau plastik yang hanya digunakan sekali.

Tujuannya adalah agar sampah tidak dikirim ke TPA. Menurutnya,  zero waste tidak hanya mengenai recycle atau mendaur ulang. Ini miskonsepsi yang umumnya terjadi. Padahal sebenarnya zero waste dimulai dari Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), and Reuse (menggunakan kembali). Saat benar-benar sudah tidak memungkinkan untuk 3 hal tadi, baru dilakukan Recycle (daur ulang) dan Rot (membusukkan/komposting).

“Intinya zero waste menantang kita semua untuk mengevaluasi gaya hidup kita dan melihat bagaimana sesuatu yang kita konsumsi bisa berdampak negatif terhadap lingkungan,” katanya.

Gaya hidup zero waste dimulai dengan keinginan untuk mengubah kebiasaan konsumsi dan berinvestasi di masyarakat demi masa depan bumi dan anak cucu. Mengubah mindset (pola pikir/cara pandang) seseorang/masyarakat memang tidaklah segampang membalik telapak tangan. Namun bukan berarti tidak mungkin. Ini semua perlu proses, perlu waktu, kerja keras, perlu keseriusan, perlu kerja sama dari semua elemen masyarakat.

Mewujudkan NTB bebas sampah (zero waste) harus dimulai dari diri sendiri dari sekarang dan dari lingkungan terkecil, yakni memilah sampah dari rumah tangga. Betapa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan memilah sampah untuk diolah agar kita terbebas dari bencana dan penyakit. (nas/*)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.