Bulog Tawarkan Beras Fortivikasi, Apa Keunggulannya?

Kepala Perum Bulog Cabang Bima, Sawaludin Susanto menunjukkan beras fortivikasi kemasan untuk menangani stunting. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Stunting sempat heboh di beberapa daerah di NTB. Stunting adalah kondisi kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Terhadap persoalan ini, Kepala Perum Bulog Cabang Bima, Sawaludin Susanto menyampaikan bahwa masalahnya adalah ada pada kurangnya asupan gizi. “Solusi yang harus kita cari adalah memberikan asupan gizi yang cukup pada anak atau keluarga,” terang Susanto.

Baca juga:  OPAL DKP Dompu Jadi Media Pembelajaran Masyarakat Sekitar

Perum Bulog di awal Oktober sudah melaunching beras Fortivikasi. Yaitu beras penambah zat gizi mikro pada salah satu atau beberapa bahan pangan dengan tujuan meningkatkan nilai gizi bahan pangan yang dibutuhkan oleh tuubuh.

“Selanjutnya kita lihat bahan pangan yang cocok. Sebenarnya bahan pangan apapun bisa. Cuma kali ini kami menawarkan bahan pangan beras yang kita fostivikasi. Kenapa beras? Karena beras merupakan bahan pangan pokok yang menjadi konsumsi masyarakat Kita. Rata-rata penduduk kita setiap hari konsumsi beras, ” jelasnya.

Baca juga:  Petani Tembakau Terpaksa Banting Harga

Dengan beras fortivikasi ini, makan nasi langsung terintegrasi dengan vitaminnya jadi tidak perlu beli vitamin tambahan atau terpisah karena langsung berada di beras yang dimasak.

Untuk harga, memang ada perbedaan dengan beras yang tidak berfortivikasi. Selisihnya sekitar Rp1.500- 2000/ Kg. Kandungan berasnya berupa vitamin A, B1, B3,B12, Zat Besi, asam folat dan zinc. Untuk pencegahan stunting ini, Perum Bulog bahkan mencanangkan Kabupaten Dompu sebagai kabupaten percontohan bagi Bulog. (bul)