RSUD NTB Susun Konsep Pengembangan Wisata Medis

Foto bersama pembicara dan undangan dalam diskusi terbatas penyusunan konsep wisata medis di RSUD NTB, Selasa (10/8) (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB menggelar diskusi terbatas dalam rangka penyusunan konsep pengembangan wisata medis yang akan segera diterapkan. Hal tersebut terutama berkaitan dengan pengembangan layanan di fasilitas kesehatan agar dapat terintegrasi dengan sektor lainnya, seperti pariwisata.

Direktur RSUD NTB, dr H. Lalu Hamzi Fikri, MM, MARS menerangkan bahwa pengembangan wisata medis sampai saat ini belum menjadi potensi yang dikelola dengan serius. Hal tersebut sangat disayangkan mengingat kualitas tenaga medis dan fasilitas yang dimiliki tidak kalah dengan yang ada di luar negeri.

“Kuncinya hanya di servis. Kalau dari sisi kemampuan kita berani adu karena standar yang kita lakukan sudah sama,” ujar Hamzi ketika dikonfirmasi, Selasa, 8 Oktober 2019. Untuk itu, RSUD NTB menjadi rumah sakit umum pemerintah pertama di Indonesia yang mencanangkan penerapan konsep wisata medis, terlebih untuk mengejar momen gelaran MotoGP yang akan diadakan 2021 mendatang. “Ini akan jadi peluang yang cukup besar,” sambungnya.

Diterangkan Hamzi, pangsa pasar untuk wisata medis saat ini cukup besar. Dicontohkannya seperti pelayanan Radioterapi di RSUD NTB yang saat ini menjadi unggulan dan pernah memfasilitasi pengobatan seorang pasien asal Malaysia yang menderita kanker stadium empat dan mendapat fasilitas perjalanan wisata karena pasien tersebut meminta dibawa ke Senggigi. “Kami sudah pernah melayani. Sudah kita lakukan. Jadi kenapa tidak kita perluas pangsa pasar, merapikan standar, dan memperkuat regulasi,” ujarnya.

Fasilitas yang menjadi unggulan dalam penerapan wisata medis di RSUD NTB sendiri adalah Pusat Pelayanan Jantung dan Pembuluh Darah Terpadu dan Pusat Pelayanan Kanker Terpadu. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI  telah memberikan dukungan kepada RSUD NTB dengan memasukkan fasilitas kesehatan yang menjadi rujukan nomor satu di NTB tersebut ke dalam e-katalog. Selanjutnya, dukungan tersebut didorong dapat terealisasi dalam bentuk Permenkes sebagai acuan pengembangan sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki.

“Seluruh produk layanan yang (kita punya) perlu kita kemas lebih cantik lagi supaya lebih laku untuk dijual. Potensi peluangnya cukup besar untuk perkembangan pariwisata,” ujar Hamzi. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah peningkatan standar pelayanan pasien yang akan diberlakukan di RSUD NTB.

Dalam penerapannya, Hamzi mengaku pihaknya memerlukan sinergi dengan pelaku pariwisata seperti pihak perhotelan, agen perjalanan, maupun stakeholder terkait yang menaungi sektor pariwisata. Selain itu, Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki RSUD NTB terus diberikan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman tentang pelayanan dan kemampuan berbahasa asing.

Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut, Kepala Bidang Analisis Lingkungan Strategis Pusat Analisis Determinan Kemenkes RI, dr. H. Mukti Rahardian, MARS, MPH., menerangkan bahwa pengembangan RSUD NTB menjadi destinasi wisata salah satunya adalah sebagai inovasi untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor non-pajak. Untuk itu, seluruh pihak disebut perlu mendukung rencana tersebut agar dapat berjalan dengan baik.

Salah satu keuntungan yang dapat diterima oleh RSUD NTB dalam pengembangan wisata medis adalah

belum banyaknya fasilitas kesehatan yang menerapkan hal tersebut di Indonesia. “Wisata medis sampai saat ini belum dikembangkan secara masif di Indonesia. Warga negara Indonesia yang menengah ke bawah lebih sering lari ke Malaysia, dan menengah ke atas lari ke Singapura,” ujar Mukti.

Selain itu, dipilihnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika sebagai salah satu destinasi prioritas juga disebut sebagai keunggulan tersendiri. Terlebih dengan adanya gelaran MotoGP pada 2021 yang menjadi destinasi super prioritas bagi pemerintah pusat.

Diterangkan Mukti pengembangan sektor wisata telah masuk menjadi program prioritas dalam RPJMN 2019-2024. Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 40 tahun 2017 tentang koordinasi strategis lintas sektor penyelenggara kepariwisataan, Kemenkes RI dan Kementrian Pariwisata (Kemenpar) RI saat ini disebut Mukti telah menandatangani nota kesepahaman untuk melakukan pengembangan wisata medis.

Dalam pengembangannya, Kemenkes RI sendiri mendorong RSUD NTB untuk memaksimalkan ataupun mengadakan fasilitas trauma center. “Karena ada MotoGP, sebagai rujukan utama provinsi, itu perlu dikembangkan,” ujar Mukti. Selain itu pelayanan ortopedi dan bedah secara umum juga perlu ditingkatkan.

Dalam waktu dekat RSUD NTB juga diminta untuk menyusun tim gugus yang bertugas untuk menyukseskan pelaksanaan wisata medis. “Yang paling tahu NTB adalah anggota tim gugus itu. Mereka akan mengolaborasi local wisdom (kearifan lokal), luxurious (kemewahan), dan modernitas yang bisa dikembangkan menjadi layanan unggulan,” pungkas Mukti.

Penjabat Sekda NTB, Dr. Ir. H. Iswandi, M. Si yang hadir membuka kegiatan tersebut menerangkan bahwa rencana pengembangan wisata medis di RSUD NTB merupakan inovasi yang pasti mendapat dukungan dari Pemprov NTB. “Ini sangat strategis dan penting. Kita sudah lama mengurus pariwisata dan sudah banyak kita saksikan penyelenggaraan event pariwisata dari yang kelas desa sampai internasional sudah banyak kita lakukan. Tapi mengintegrasikan layanan kesehatan dengan pariwisata ini menjadi hal yang baru,” ujarnya.

Diterangkan Iswandi pengembangan tersebut telah sejalan dengan keinginan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE. M.Sc untuk menghadirkan banyak pengembangan yang punya kebaruan ide. “Cara kerja yang seperti ini yang digalakkan oleh Pak Gubernur. Bagaimana kita memperluas pembangunan pariwisata ini tidak hanya soal destinasi, tapi ada juga layanan pariwisata dari bidang kesehatan. Ini inisiasi yang membanggakan,” ujarnya.

Iswandi sendiri menekankan pentingnya sinergi dan penyiapan SDM untuk menyukseskan rencana tersebut. Selain itu, faktor kebersihan juga disebut menjadi hal yang kerusial untuk terus diperhatikan. Mengingat kegiatan pariwisata tidak terlebih dari lingkungan yang bersih, indah, dan nyaman untuk meningkatkan modal promosi.

“Dari seluruh kantor pemerintah provinsi, yang keliatan paling nyaman adalah di RSUD NTB. Itu harus dipertahankan dan dikembangkan,” ujar Iswandi. Selain itu, diharapkan juga adanya kolaborasi dengan pelaku pariwisata seperti pihak perhotelan untuk menghadirkan standar yang sesuai dengan kebutuhan pasar internasional. Artinya, seluruh fasilitas yang dimiliki oleh RSUD NTB bukan lagi sebatas menangani pelayanan kesehatan namun dapat juga dimanfaatkan untuk berwisata. (bay)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.