Kemenkes Apresiasi Langkah Pemprov Lokalisir Rabies

Kepala Dikes NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi melakukan vaksinasi serum anti rabies kepada petugas kesehatan pada peringatan Hari Rabies Sedunia di Depan Pendopo Gubernur, Sabtu, 28 September 2019 disaksikan Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita dan Direktur P2PTVZ Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengapresiasi upaya yang dilakukan Pemprov NTB dan Pemda Kabupaten Dompu yang dinilai berhasil melokalisir wabah rabies sehingga tidak menyebar ke daerah lainnya. Selain itu, Kemenkes juga memberikan bantuan 7.230 vaksin dan serum anti rabies untuk NTB.

Penyerahan dukungan Kemenkes dalam penanggulangan Kasus Luar Biasa (KLB) Rabies di NTB  berupa vaksin anti rabies 7.000 dosis, serum anti rabies 230 dosis  dan bahan edukasi tentang rabies. Penyerahan bantuan diberikan langsung Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ) Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid kepada Wakil Gubernur NTB, Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M. Pd pada peringatan Hari Rabies Sedunia di Depan Pendopo Gubernur, Sabtu, 28 September 2019 siang.

Nadia mengatakan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, sangat mengapresiasi acara ini. Pihaknya memberikan  penghargaan setinggi-tingginya kepada Pemprov NTB yang menjadi tempat peringatan Hari Rabies Sedunia 2019. “Pencegahan dan pengendalian penyakit rabies merupakan tantangan besar yang harus kita hadapi dan sikapi bersama,” katanya.

Disebutkan, pada tahun 2018, sudah ada 9 provinsi yang bebas rabies. Tetapi pada 2019, jumlah provinsi bebas rabies turun  menjadi 8 provinsi. Salah satu penularan rabies adalah karena hewan penular rabies (HPR)  ke manusia melalui gigitan.

Kemenkes Apresiasi Langkah Pemprov Lokalisir Rabies

Pada saat ini ada beberapa provinsi yang memiliki permasalahan dengan kasus-kasus rabies. Pada 2019 tercatat Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara yang angka kasus gigitan cukup tinggi. Sedangkan untuk angka kematian manusia akibat rabies,  sampai 2019, provinsi yang cukup besar  adalah Sulawesi Utara, NTB, NTT.

“Hal ini menjadi kewaspadaan kita semua. Dari laporan yang ada, kasus yang terjadi di Kabupaten Dompu 2.400 kasus gigitan hewan penular rabies  dengan 13 kematian menjadi perhatian bersama untuk segera menyelesaikan persoalan rabies di provinsi NTB,” ujarnya. Dikatakan, 98 persen rabies yang terjadi pada manusia akibat gigitan anjing.  Upaya yang dilakukan di sektor kesehatan dalam mencegah kematian pada manusia akibat rabies dengan melakukan tiga langkah utama.

Baca juga:  WHO Kirim 2.400 Vaksin Anti Rabies ke Pulau Sumbawa

Pertama, penanganan gigitan HPR yang tepat. Kedua, pemberian vaksin anti rabies dalam waktu segera. Dan ketiga, pemberian serum anti rabies jika gigitan HPR termasuk pada kasus-kasus berisiko tinggi.

Peringatan Hari Rabies Sedunia, kata Nadia ditujukan untuk memberikan  pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga hewan peliharaan agar  bebas dari rabies. Kemudian memberikan pemahaman kepada seluruh pemangku keputusan untuk melakukan kerja bersama mengatasi pencegahan dan pengendalian rabies. “Serta adanya pemahaman adanya bahaya rabies dan pentingnya pencegahan dan pengendalian rabies dilakukan lintas sektor bersama Pemerintah pusat dan Pemda,” ujarnya.

Ia menyebutkan teman Hari Rabies Sedunia tahun ini adalah “Vaksinasi Tuntas, Rabies Bebas”. Menurutnya, tema ini sangat relevan dengan upaya yang sedang dilakukan secara terpadu lintas sektor untuk mewujudkan Indonesia bebas rabies 2030. Dengan melakukan vaksinasi pada hewan penular rabies dan melaksanakan tata laksana kasus gigitan HPR secara cepat.

Untuk melakukan vaksinasi hewan penular rabies tidak bisa dilakukan pemerintah saja. Tetapi pemahaman dari seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga kesehatan dirinya sendiri untuk tidak tertular penyakit rabies juga sangat penting. Hal ini menjadi penting untuk terus menerus disampaikan ke masyarakat.

“Mengapresiasi upaya Pemprov NTB berserta kabupaten Dompu. Walaupun terjadi peningkatan kasus rabies baik dalam hal HPR maupun angka kematian. Yang tadinya tidak ada, angkanya sangat kecil. Bahwa pemerintah berhasil melokalisir daripada pengendalian rabies,” ucapnya.

Ia mengatakan NTB merupakan provinsi yang diapit oleh dua provinsi yang secara historikal belum eliminasi rabies, yakni Bali dan NTT. Namun, NTB dengan upaya kerasnya sejak awal tahun mencegah kasus gigitan hewan penular rabies maupun angka kematian manusia. Juga melokaisir gigitan hewan penular rabies ke pulau lainnya yang ada di NTB.

“Ini membuktikan dengan kerja sama lintas sektor kita bisa melokalisir kejadian peningkatan kasus maupun kajadian yang berpotensi menjadi KLB. Kedua, dapat menekan kasus serendah mungkin dan mengurangi kematian akibat gigitan hewan penular rabies,” imbuhnya.

Baca juga:  WHO Kirim 2.400 Vaksin Anti Rabies ke Pulau Sumbawa

Nadia menambahkan apabila rabies pada manusia dapat ditekan menjadi nol. Maka kita dapat mewujudkan Indonesia bebas rabies tahun 2030 mendatang. Seharusnya tidak ada kematian pada manusia akibat gigitan hewan penular rabies. Vakinasi anti rabies yang diberikan pada manusia merupakan obat atau upaya penyelamatan agar tidak berakhir kematian.

Untuk itu, keterpaduan langkah lintas sektor bersama masyarakat harus semakin diperkuat. Pemahaman masyarakat tentang bahaya rabies juga perlu ditingkatkan. “Peringatan Hari Rabies Sedunia ini sangat tepat dilakukan di Mataram. Karena akan memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya di NTB tentang bahaya rabies,” katanya.

Kejadian wabah rabies di Kabupaten Dompu menjadi pembelajaran bagi semua dalam upaya melakukan pencegahan. Karena upaya pencegahan, kata Nadia, lebih baik daripada mengobati. Untuk mencegah kematian akibat gigitan hewan penular rabies, Nadia mengatakan terus ditingkatkan promosi kesehatan kepada masyarakat  tentang pentingnya cuci luka gigitan hewan penular rabies.

Luka gigitan hewan penular rabies harus disiram dengan air mengalir selama 10-15 menit dengan menggunakan sabun dan detergen. Melakukan cuci luka menjadi penting sebagai upaya pertolongan pertama sebelum sampai pada fasilitas pelayanan kesehatan. Karena ini akan mengurangi angka kematian sebagai akibat gigitan hewan penular rabies. “Diharapkan tidak ada lagi kematian akibat gigitan hewan penular rabies,” katanya.

Langkah lainnya yang perlu dilakukan  mengoptimalkan rabies center sebagai upaya akses masyarakat kepada tata laksana kasus gigitan hewan penular rabies. “Tingkatkan vaksinasi HPR setinggi-tingginya. Mulai dari hewan peliharaan sampai dengan perilaku-perilaku. Sehingga risiko rabies pada manusia bisa jadi nol,” pungkasnya.

Pada peringatan Hari Rabies Sedunia tersebut juga dilakukan vaksinasi kepada petugas dan hewan penular rabies. Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, S.pA, MPH melakukan vaksinasi kepada petugas kesehatan yang betugas di lapangan. (nas/*)