Banun: Ingin Tetap Sehat Walau Punya JKN-KIS

Selong (suarantb.com) – Berdasarkan data dari BPJS Kesehatan, jumlah peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) per Agustus 2019 mencapai 59% dari total seluruh peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN–KIS). Hal ini berarti bahwa pemerintah telah memberikan subsidi layanan kesehatan bagi 130 juta jiwa masyarakat yang masuk dalam golongan tidak mampu.

Adalah Sahri Banun (44), ibu tunggal dua orang anak ini rupanya telah menjadi peserta JKN – KIS segmen Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN sejak beberapa tahun yang lalu. Ia mengungkapkan program JKN – KIS telah menolong keluarganya ketika anaknya mengalami kecelakaan parah 4 tahun lalu.

“Operasinya di bagian tulang belakang dan harus dirujuk sampai ke Rumah Sakit Pusat Sanglah di Bali. Sejak kejadian itu saya semakin sadar, bahwa ternyata JKN–KIS memberikan perlindungan paket komplit sampai anak saya benar – benar sembuh,” ucapnya ketika menceritakan kembali kisah yang menimpa anaknya.

Sahri Banun merupakan satu dari jutaan masyarakat yang merasakan langsung manfaat program JKN – KIS. Berkat program yang dikelola oleh BPJS Kesehatan ini, masyarakat yang tidak mampu pun berhak menerima layanan kesehatan yang berkualitas tanpa dibeda-bedakan. Mengingat sekarang biaya pengobatan yang semakin mahal dan perubahan pola hidup yang tidak sehat membuat masyarakat kian rentan terkena berbagai macam penyakit.

“Zaman sekarang orang yang seumuran saya sudah banyak yang sakit diabetes, jantung, bahkan kanker. Bersyukurnya saya selalu sehat karena saya sadar kalau sakit itu mahal. Walaupun sudah dijamin oleh JKN – KIS, saya tetap jaga kesehatan,” tutur wanita yang berprofesi sebagai kader Posyandu ini.

Menurutnya, menjadi peserta JKN – KIS bukan serta merta harus merasa tenang ketika sakit. “Pikiran seperti itu harus diubah. Seharusnya kita berusaha jangan sampai kita pakai kartunya untuk berobat. Punya kartu tapi tetap harus sehat,” ungkap ibu cerdas ini.

Adapun dengan adanya program JKN – KIS ini semakin menunjukkan bahwa pemerintah terus berupaya agar masyarakat semakin mudah mengakses pelayanan kesehatan. Semua itu bahkan dapat dinikmati dengan biaya yang terjangkau dan mampu mencakup beberapa penyakit secara komprehensif baik dari segi preventif, promotif, kuratif hingga rehabilitatif. (r/*)