NTB Segera Kembangkan Vaksin Halal

Direktur Sumbawa Technopark (STP), Dr. Arief Budi Witarto berpose di ruang fasilitas produksi bersama staf KBRI Indonesia di Havana, Kuba, Senin, 16 September 2019 waktu setempat. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Provinsi NTB adalah satu dari sedikit provinsi yang sudah menerapkan pariwisata halal. Namun, potensi lain yakni industri halal juga mesti dieksplorasi. Pemikiran ini memotivasi para pemangku kepentingan di NTB untuk mengembangkan vaksin halal. Di Sumbawa Technopark, semangat ini tampaknya segera terwujud.

Direktur Sumbawa Technopark (STP), Dr. Arief Budi Witarto menjelaskan, pabrik pengolahan rumput laut Kotoni menjadi Refined Karagenan di STP akan mulai berproduksi tahun 2020.

Tak hanya berhenti di Karagenan. Produksi STP rencananya juga akan diarahkan pada pemanfaatan produk akhir berupa kapsul halal.

“Sebab, Karagenan bisa digunakan untuk menggantikan gelatin yang berasal dari hewan (sapi/babi) sebagai bahan baku kapsul,” jelas Arief dalam rilis yang diterima Suara NTB, Selasa, 17 September 2019.

Sebagian dari MoU antara Institut Vaksin Finlay dengan Sumbawa Technopark yang ditandatangani di Havana, Kuba, Senin, 16 September 2019.

Untuk mengembangkan vaksin halal ini, Sumbawa Technopark menggandeng sumber inovasi dari belahan dunia yang jauh, di Havana Kuba, yaitu Instituto Finlay de Vacunas alias Institut Vaksin Finlay.

Baca juga:  Dekranasda Dorong NTB Jadi Pusat Busana Muslim Nasional

Kerjasama antara STP dengan Institut Vaksin Finlay diwujudkan dalam nota kesepahaman bertajuk “Pengembangan Vaksin Halal”. Nota kesepahaman ini ditandatangani Arief Budi Witarto selaku Direktur Sumbawa Technopark dengan Kepala Institut Vaksin Finlay di Havana, Senin, 16 September 2019.

Institut Vaksin Finlay merupakan sebuah perusahaan di Kuba yang menjadi bagian dari kelompok industri bioteknologi dan farmasi di Kuba.

Lembaga ini telah memproduksi berbagai jenis vaksin yang diakui WHO dan diekspor ke beberapa negara. Salah satu yang dikuasai adalah teknologi berbahan baku molekul polisakarida yang mudah untuk diolah menjadi vaksin halal. Publikasi ilmiah untuk penemuan ini diterbitkan di jurnal Science (AS) yang selama ini justru menjadi kompetitornya.

Menurut Arief, teknologi polisakarida jauh lebih mudah dibuat halal daripada vaksin berbahan baku patogen yang dilemahkan atau protein rekombinan. “Oleh karena itu Sumbawa Technopark berminat dalam alih teknologinya,” tegas Arief.

Baca juga:  Pelaku Industri Difasilitasi Supaya “Naik Kelas”

Mampukah daerah menghasilkan vaksin halal yang produknya telah melalui prosedur regulasi secara ketat? Arief tak menyangsikannya. “Kenapa tidak,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini monopoli satu perusahaan BUMN untuk menghasilkan vaksin sudah dicabut oleh pemerintah. Pencabutan monopoli ini dihajatkan untuk mendorong inovasi. Fasilitas produksi yang memenuhi syarat industri farmasi juga sudah disiapkan Kemenristek Dikti sebagai fasilitas umum.

“Sehingga semua hanya tinggal tergantung pada kemauan saja,” ujar Arief. Langkah ini jelas menjadi salah satu kemajuan penting dalam mengembangkan vaksin halal di Indonesia.

Kepala Institut Vaksin Finlay, Dr. Vicente menegaskan hal yang sama. Menurutnya, kemauan adalah kunci keberhasilan. “When there is a will, there is a way,” demikian salah satu pepatah yang sering disampaikan oleh inisiator Sumbawa Technopark, Dr. H. Zulkieflimansyah. (*)