Gotong Royong BPJS Kesehatan, Dulu Ditentang Sekarang Disayang

Suprapti

Selong (Suara NTB) – Terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) No 82 Tahun 2018 semakin menegaskan bahwa kepesertaan program Jaminan Kesehatan Nasional–Kartu Indonesia Sehat (JKN – KIS) bersifat wajib bagi setiap warga negara Indonesia. Namun, tak dipungkiri jika masih ada beberapa orang yang kerap kali memandang hal tersebut sebagai beban. Karena merasa enggan untuk menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk iuran kepesertaan JKN – KIS.

Faktanya, mereka seakan tak acuh dengan prinsip yang diusung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, yakni prinsip gotong royong. Ini berarti iuran yang dibayarkan oleh peserta JKN – KIS tidak akan bisa ditarik layaknya tabungan. Tetapi diibaratkan sebagai bentuk kebersamaan antar peserta dalam menanggung beban biaya jaminan sosial. Rupanya inilah yang menjadi alasan kuat Suprapti (37), seorang guru honorer yang telah berpartisipasi menjadi peserta JKN – KIS sejak 3 tahun lalu.

“Jujur saja, awalnya saya merasa berat hati untuk bayar iuran setiap bulannya. Di tambah gaji saya dan suami tidak seberapa. Tapi saya terus meyakinkan diri, mungkin dengan ini kami nantinya akan dapat kebaikan yang lebih besar,” ungkapnya ketika ditemui tim Jamkesnews,  6 Agustus 2019 siang.

Ibu dua anak ini memang terbilang jarang sekali menggunakan kartu JKN – KIS miliknya. Hanya beberapa kali ketika harus ke Puskesmas untuk mengobati anaknya yang sakit.

“Kalau datang ke Puskesmas, yang ditanyakan pertama oleh petugasnya pasti, ‘Ibu sudah punya kartu JKN – KIS?’ disitu saya jadi mikir, Wah! Itu berarti sudah banyak sekali ya orang yang memanfaatkan layanan program BPJS Kesehatan,” ujarnya.

Di awal kemunculannya, kehadiran JKN – KIS memang sempat diragukan. Namun seiring berjalannya waktu, persepsi negatif yang ada perlahan mulai hilang dan digantikan dengan persepsi positif yang dibuktikan langsung oleh masyarakat sendiri.

Seperti cerita Suprapti tentang salah satu tetangganya yang telah memanfaatkan JKN – KIS. “Dia harus cuci darah setiap minggu karena sakit ginjal. Karena sudah jadi peserta JKN – KIS. Tidak perlu memikirkan biaya berjuta – juta. Cukup rutin bayar iuran, cuci darahnya pun tetap jalan,” tuturnya.

Menurut Suprapti hal itu telah menunjukkan bahwa program JKN – KIS memang semakin mempermudah masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan yang berkualitas. Terkait iuran wajib yang harus dibayarkannya setiap bulan, ia menganggapnya sebagai kontribusi seorang warga negara Indonesia yang baik.

“Iuran itu kan bisa digunakan berobat masyakarat yang kurang mampu. Kita sehat bantu yang sakit. Intinya ikhlas dan yakin, kalau nanti kebaikan kita akan berbuah kebaikan yang lebih besar,” ujar Suprapti. (rus)