Jelang Satu Tahun Zul-Rohmi, Instalasi Radioterapi RSUD NTB Mulai Terima Pasien BPJS

Foto bersama tim medis Instalasi Radioterapi RSUD NTB di Ruang Penyinaran (Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB terus memaksimalkan pelayanan pasien kanker yang membutuhkan perawatan radioterapi. Diantaranya dengan melakukan pembenahan fasilitas, teknologi, maupun penerimaan pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang sebentar lagi dibuka.

Direktur RSUD NTB, dr H. Lalu Hamzi Fikri, MM, MARS menerangan, dengan adanya Instalasi Radioterapi di RSUD NTB maka penanganan komprehensif untuk kanker telah lengkap. Mulai dari pembedahan, kemoterapi dengan obat, serta terapi penyinaran yang diakomodasi oleh Instalasi Radioterapi. “Pasien-pasien kangker ini sudah bisa kita layani di NTB,” ujar Hamzi ditemui Suara NTB, Sabtu (18/8).

Selama ini, pasien-pasien kanker yang membutuhkan penanganan radioterapi kerap dirujuk ke luar daerah seperti Bali, Jakarta, dan Surabaya. Hal itu disebut Hamzi memberatkan pasien dari segi biaya hidup selama menjalani perawatan di luar daerah. Untuk itu, dengan adanya fasilitas tersebut di RSUD NTB diharapkan dapat membantu masyarakat, terlebih dengan dibukanya pelayanan BPJS mulai hari ini.

Perjalanan Instalasi Radioterapi di RSUD sendiri terbilang cukup panjang. Yaitu mulai pada tahun 2015 saat pertama kali perencanaan pembangunan gedung menggunakan ABPD, hingga realisasi pembangunan gedung pada 2015-2017.  ‘’Alhamdulillah simultan kita adakan pada tahun 2017-2018 menyiapkan alat-alat radioterapi. Ini masih ada terus pengembangan ke depan,’’ ujar Hamzi.

Pada 2018, RSUD NTB sempat meluncurkan pelayanan Instalasi Radioterapi ke masyarakat, namun khusus untuk pasien umum. Selain itu, pada tahun tersebut juga pelayanan sempat terhalang oleh regulasi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) untuk izin operasional.

Seluruh masalah itu kemudian terselesaikan ketika pada 2019, ketika Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE. M.Sc mendorong percepatan izin Bapeten dan izin pelayanan pasien BPJS-Kesehatan. Untuk itu, Hamzi menyebut pihaknya sangat berterimakasih kepada Pemprov NTB, khususnya Gubernur NTB. ‘’Ini menjadi kado satu tahun percepatan kepemimpinan Zul-Rohmi, kita memberikan pelayanan radioterapi bagi pasien-pasien BPJS,’’ ujar Hamzi.

Ke depan Hamzi berharap RSUD NTB dapat menjadi bagian dari pembanguanan NTB yang sedang gencar-gencarnya. Di mana ia merasa optimis Instalasi Radioterapi RSUD NTB dapat juga mengakomodir kebutuhan pasien-pasien dari luar daerah maupaun internasional.

‘’Karena pertama rumah sakit kita menjadi salah satu rumah sakit yang ditunjuk sebagai health tourism (wisata halal, Red) dalam  e-katalog Kementrian Kesehatan,’’ ujar Hamzi. Selain itu, RSUD juga sedang mempertahankan akreditasi paripurna serta mengejar akreditasi internasional untuk 2021 mendatang, sesuai dengan target gelaran MotoGP yang akan meramaikan potensi NTB sebagai titik berkumpulnya

orang-orang dari seluruh penjuru dunia.

Senada dengan itu Kepala Instalasi Radioterapi RSUD NTB, dr. Hadi Nurhadi, Sp.Onk. Rad menerangkan, saat ini instalasi yang dikelolanya mampu menangai sampai 40 pasien per hari, dengan kuantitas penyinaran mencapai 35 kali selama tujuh minggu untuk satu pasien. Teknik radioterapi yang diterapkan merupakan teknik terbaru dengan metode 3D CRT FiF (three dimension conformal radiotherapy field in field).

Teknik itu disebut Hadi akan memberikan hasil yang lebih baik karena mendukung penyinaran terpusat pada sel kanker sehingga memperkecil kemungkinan rusaknya sel yang masih sehat. Dengan begitu, sinar dapat diberikan dengan dosis yang lebih tinggi sehingga hasil yang didapat lebih maksimal.

Seluruh staf yang terlibat dalam penanganan pasien juga telah menjalani pelatihan-pelatihan khusus di luar daerah dalam kurung waktu tertentu. ‘’Ada yang enam bulan, ada yang satu tauhun lebih untuk (kesiapan) memulai pelayanan di sini,’’ ujar Hadi ditemui Suara NTB, Sabtu (18/8) di Mataram.

Hadi menerangkan bahwa teknik radioterapi membutuhkan waktu selama 50 tahun untuk masuk ke Indonesia bagian timur sejak pertama kali diperkenalkan di Indonesia. Merupakan suatu kebanggaan tersendiri di mana RSUD NTB memiliki teknik terbaru dalam penerapannya untuk wilayah Indonesia bagian timur selain yang ada di Bali, Makassar, dan Kalimantan.

Sampai saat ini Instalasi Radioterapi RSUD NTB telah melayani 22 orang pasien umum. Dengan dibukanya pelayanan BPJS mulai 19 Agustus 2019 dengan antrean pasien telah mencapai 200 orang. Hadi berharap fasilitas tersebut dapat mengakomodir penanganan pasien kanker di NTB agar tidak lagi harus dirujuk ke luar daerah.

‘’Kita harapkan kita bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat NTB,” ujar alumnus Spesialis Ongkologi jebolan Universitas Indonesia tersebut. “Kita berharap bisa mengcover (menangani, Red) juga daerah lain seperti NTT, Maluku, Papua. Jadi pasien-pasien (dari semua daerah itu) selama ini kebanyakan ke Jakarta,’’ katanya.

Seluruh tenaga medis di Instalasi Radioterapi RSUD NTB disebut Hadi telah mampu melakukan teknik radiasi yang paling sederhana hinga yang paling rumit. Kasus kanker yang bisa ditangani meliputi hampir semua jenis, kecuali kanker serviks yang membutuhkan alat khusus lainnya. ‘’Kita baru punya alat untuk sinar luar. Yang masih dalam proses alat untuk sinar dalam, itu khusus kangker serviks,’’ ujar Hadi.

Seluruh alat itu sendiri sedang dalam proses pengiriman dari luar negeri. Disebut Hadi pihaknya menunggu kedatangan alat tersebut yang saat ini masih dalam proses pembayaran pajak dan pengiriman. ‘’Akhir tahun kita tergetkan siap semua,’’ ujarnya. (bay/*)