200 Posyandu di Dompu Berhasil Direvitalisasi Jadi Posyandu Keluarga

Hj. Iris Juita Kastianti dan Seorang ibu di Kempo menunjukan buku tabungan dan kupon dari program jimpitan sampah di Posyandu. Sehingga masyarakat tidak hanya didorong menjaga kesehatan, tapi juga diajak membiasakan menabung dari sampah yang dibawa. (Suara NTB/ula)

Dompu (Suara NTB) – Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu berkomitmen merevitalisasi Posyandu menjadi Posyandu keluarga hingga 2020. Dari 424 Posyandu, saat ini sudah 200 Posyandu yang berhasil direvitalisasi. Pada Posyandu keluarga diterapkan program jimpitan sampah dan makanan tambahan IBU JARI (inovasi bubur, jagung, kelor dan ikan).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Hj. Iris Juita Kastianti, SKM, MMKes kepada Suara NTB beberapa waktu lalu menyebutkan progres revitalisasi Posyandu di Dompu cukup cepat bila dibandingkan target Provinsi hingga 2023 menjadi Posyandu keluarga. “Di Dompu ada 424 Posyandu dan Posyandu keluarga sudah 200 Posyandu. Kami sudah musyawarah dengan Posyandu. Tahun 2020 akan total (menjadi Posyandu keluarga) dengan jimpitan sampah,” katanya.

Saat ini, kata Hj. Iris Juita, sudah 200 Posyandu keluarga terbentuk dari 424 Posyandu se Kabupaten Dompu. Jika Posyandu konvensional hanya melayani bayi, balita dan ibu hamil, tapi Posyandu keluarga juga melayani remaja hingga lansia. Posyandu keluarga juga sudah diubah waktu pelayanan menjadi sore hari disesuaikan karena kesibukan warga berusaha dan bertani di pagi hari.

Perubahan Posyandu di Dompu tidak hanya cakupan layanan, tapi juga pada sistem layanan. Karena sebelumnya, warga peserta Posyandu membayar biaya pengobatan bagi mereka yang bukan peserta BPJS atau KIS dengan beras 1 gelas. Tapi saat ini diubah dengan jimpitan sampah bekerjasama dengan bank sampah. Setiap warga diminta untuk membawa sampah plastik seperti botol dan gelas plastik sisa minuman.

Sampah yang dibawa ini kemudian ditimbang dan menjadi biaya pengobatan, tapi tidak sampai mengganggu pelayanan Posyandu. Sehingga penimbangan dilakukan setelah pelayanan Posyandu. Bagi yang membawa sampah banyak, sisa uangnya akan dimasukan ke dalam tabungan. Program ini, Dikes melalui Puskesmas tidak bekerja sendiri, tapi melibatkan bank sampah. Sehingga pengobatan dengan sampah ini tidak hanya di Posyandu, tapi di seluruh jaringan perawatan Puskesmas seperti Polindes, Poskesdes dan Puskesmas.

Program ini, kata Hj. Iris Juita, tidak hanya membiasakan masyarakat untuk hidup bersih, tapi sebagai upaya menjaga kesehatan lingkungan. Sehingga program pengobatan dengan sampah dan jimpitan sampah pada Posyandu untuk mendorong program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) serta program Zero Waste (bebas sampah) yang menjadi program Provinsi NTB.

Terobosan juga dilakukan terhadap makanan tambahan bagi peserta Posyandu. Jika sebelumnya difokuskan hanya pada bubur, kini dikenal dengan IBU JARI yaitu inovasi bubur, jagung, kelor dan ikan. Inovasi ini lebih kepada pemanfaatan sumber daya lokal. Seperti kelor memiliki kandungan vitamin dan mineralnya cukup lengkap sesuai kebutuhan pada bayi dan balita. “Kelor juga sangat mudah ditemukan di masyarakat, karena hampir setiap rumah menanamnya. Kandungan vitamin dan mineralnya sesuai kebutuhan pada bayi dan balita dalam menanganai stanting,” ungkap Hj. Iris Juita.

Berbagai terobosan perbaikan layanan kesehatan ini dilakukan dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dukungan dan pelibatan semua pihak sangat diharapkan, terutama Desa yang kini memiliki kewenangan lebih dengan dukungan APBDes-nya. “Desa selalu kita ajak terlibat, karena pada APBDes juga ada pos untuk kesehatan,” katanya. (ula/*)