Jadi Peserta JKN-KIS Itu Mulia, Membantu Sesama Itu Luar Biasa

Romadhaniar Febriana (Suara NTB/ist)

Selong (suarantb.com) – Berdasarkan data peserta BPJS kesehatan yang telah terdaftar, ternyata lebih dari separuhnya adalah peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang iurannya dibiayai oleh pemerintah. Sementara, sisanya adalah peserta yang iurannya dibayarkan secara mandiri ataupun dengan pemotongan dari penghasilan setiap bulannya.

Tentunya, mereka yang telah aktif sebagai peserta dan memiliki kartu Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN–KIS) tidak semuanya dalam kondisi yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan. Sebagian dari mereka adalah orang–orang sehat yang memang memiliki kesadaran yang tinggi untuk taat membayar iuran. Apabila sistem pembayaran iuran tersebut terpantau dengan baik maka dipastikan setiap peserta JKN–KIS pun akan menikmati layanan kesehatan yang memadai.

Itulah yang menjadi harapan Romadhaniar Febriana (25), wanita asal Kota Selong yang baru beberapa bulan ini telah terdaftar sebagai peserta JKN – KIS segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU).

Baca juga:  Bupati Dorong Pembangunan Konstruksi Berpikir Masyarakat

“Sebagai peserta mandiri kewajibannya harus bayar iuran sendiri. Karena sudah jadi peserta JKN –KIS otomatis gotong royong pun jadi poin utamanya kan. Saling membantu meringankan biaya pengobatan saudara yang sedang sakit,” ungkapnya ketika diwawancarai tim Jamkesnews Rabu (19/6).

Rupanya, program JKN–KIS sudah tak asing lagi bagi wanita lulusan profesi Bidan ini. Sejak kecil ia dan keluarganya memang sudah punya asuransi kesehatan milik pemerintah yang dulunya disebut Askes. Ia pun mengungkapkan bahwa selama ini selalu ditolong oleh program Pemerintah tersebut.

“Almarhumah ibu saya adalah seorang cancer survivor yang pengobatan dan perawatannya 100% telah dijamin oleh BPJS Kesehatan. Itu merupakan bantuan terbesar yang kami dapatkan saat mendampingi ibu melewati masa–masa kritisnya,” cerita wanita yang akrab disapa Niar ini.

Baca juga:  Bupati Dorong Pembangunan Konstruksi Berpikir Masyarakat

Kejadian itulah yang menjadi titik balik dan motivasinya untuk langsung mendaftarkan diri sebagai peserta JKN–KIS ketika usianya sudah tidak masuk dalam cakupan tanggungan keluarga. Menurutnya, dengan menjadi bagian dari program milik pemerintah tersebut, ia seakan membalas kebaikan orang – orang yang telah membantu biaya pengobatan ibunya dulu ketika sakit.

“Terkait sistem iurannya, saya tidak masalah. Karena manfaatnya kan bisa diberikan ke orang yang memang sedang membutuhkan. Semoga kebaikan kita berbalas kesehatan wal afiat. Mungkin hari ini kita diberikan kesempatan untuk membantu orang lain, siapa tahu besok – besok kita yang nantinya akan dibantu, menurut saya itulah makna gotong royong BPJS Kesehatan,” tutupnya. (*)