Kisah Sedih Purnama Hadi, Pernah Mati Suri dan 18 Tahun Hanya di Tempat Tidur

Purnama Hadi terlihat kurus dan berharap bisa berobat. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Setiap mata yang melihatnya, terasa ingin menangis. Sedih karena melihat badannya, kakinya, tangannya makin kurus. Tulang punggungnya pun sudah terlihat tak lagi lurus. Meski demikian, harapannya juga harapan keluarganya tetap semangat ingin melanjutkan hidup. Berharap ada pertolongan medis dan hadirnya sebuah keajaiban.

Dialah Purnama Hadi, warga Dusun Timba Ekek, Desa Suralaga, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Usia Purnama Hadi memang tak lagi anak-anak. Usainya sudah remaja, namun badan kecil dan kurus. Warga menyebut remaja ini mengalami gizi buruk.

Pengakuan Inaq Mahnim, ibu Purnama Hadi bahwa anaknya yang keenam itu kini sudah berusia 18 tahun. Selama itu pula, putra kesayangan Inaq Hanim ini hanya bisa di pembaringan. Sesekali digendongnya saat makan.  “Purnama masih bisa mengunyah makanan,” ucap Inaq Mahnim.

Purnama Hadi sebenarnya lahir normal. Pertumbuhannya pun normal. Diusianya yang ke sembilan bulan, Purnama sudah bisa bicara dan mulai belajar berjalan. Kisah pilu Purnama ini tutur Inaq Mahnim berawal pascadisuntik campak oleh petugas kesehatan di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Setelah suntik, Purnama mengalami kejang-kejang dan demam tinggi.

Purnama pun waktu itu dikira sudah meninggal. Anak malang yang lahir tahun 2000 itu, sehari semalam tak bergerak. Tidak ada nafas. Sudah banyak warga yang datang untuk melayat karena Purnama dikira sudah tutup usia. Namun ibunya terus menyusui anaknya. Inaq Mahnim meyakini buah hatinya masih hidup. Ia pun tak mengizinkan orang-orang memandikannya. Keyakinannya terbukti, Purnama selang beberapa saat kemudian bernafas.

Baca juga:  21 Ribu Korban Gempa di NTB Jatuh Miskin

Inaq Mahnim mengaku sudah banyak upaya pengobatan tradisional yang tempuh untuk menyembuhkan anaknya. Ia pun sampai menjual piring dan perabotan rumah tangga untuk menambah biaya pengobatan.

Pengobatan medis, diakui belum banyak ditempuh karena tak ada biaya. Suami yang didamba bisa menjadi pemberi solusi sudah lama pergi meninggalkannya. Suami Inaq Hanim ini menghilang dan tak pernah ada kabar sampai sekarang. Ia pun berjuang sendiri mencoba bertahan hidup bersama dua orang anaknya. Purnama Hadi dan saudaranya Murah Hati. ‘’Suami saya menghilang sejak Purnama berusia tiga minggu,’’ tuturnya.

Sejauh ini, yang ditempuh hanya fisioteraphi.Yakni sekitar 1,5 tahun lamanya namun tak ada perubahan. Sedangkan pengobatan lainnya dilakukan terakhir sekitar 2007 lalu. Pernah dibawa ke rumah sakit namun tidak ada yang mengurus.Ia sudah merasa tak ada harapan untuk anaknya. Kondisi perekonomiannya yang sulit tak mampu untuk melakukan pengobatan lanjutan.

Kartu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Kartu Indonesia Sehat (KIS) Penerima Bantuan Iuran (PBI) memang sudah diberikan oleh pemerintah. Biaya medis mungkin gratis saat pengobatan, namun biaya hidup sehari-hari nantinya selama pengobatan Inaq Mahmin merasa tak mampu.

Di samping itu, karena memang ia merasa sudah tak ada yang peduli. Berulang kali ia melapor kepada para penentu kebijakan, namun acap kali Inaq Mahnim disebut sudah tak waras. Kepada anak-anaknya yang sudah besar, ia merasa sungkan. Malu karena lima anaknya yang sudah besar sudah berkeluarga semua. Belakangan baru kemudian ada Kepala Dusun (Kadus), M. Isnaeni yang melaporkan kasusnya kepada salah satu anggota DPRD Lotim, Baiq Nurhasanah. Politisi PDIP daerah pemilihan I Kabupaten Lotim.

Baca juga:  21 Ribu Korban Gempa di NTB Jatuh Miskin

Pengakuan Kadus, ia baru tahu ada warganya yang mengidap penyakit sudah sangat lama namun seperti tak terurus. Kadus ini pun meminta bantuan Baiq Nurhasanah untuk mencoba membantu setidaknya untuk pengobatan.

Baiq Nurhasanah menyatakan siap akan memfasilitasi biaya pengobatan dari Purnama Hadi. “Saya siap fasilitasi berapapun nanti biayanya. Nanti lewat dana aspirasi setidaknya bisa membantu,’’ ucapnya. Politisi PDIP yang kembali terpilih menjadi anggota DPRD Lotim pada Pemilu 19 April 2019 lalu ini mengaku heran. Dia pertanyakan kenapa kasus Purnama Hadi ini dibiarkan sampai sekarang tak terurus.

Pengalamannya selaku kader di kampungnya, Baiq Nurhasanah selalu mendampingi warga yang kondisi ekonominya kurang mampu untuk berobat. “Saya dikabari oleh Kadus, dan saya kaget setelah melihatnya,” ucapnya. Menjadi tugas kader di masing-masing desa dan dusun memang harus melapor. Dulu itu ada kegiatan Posyandu yang mana kader-kadernya harus bersikap cekatan jika menemukan kasus-kasus seperti yang diderita Purnama Hadi.

Kepala Dinas Kesehatan Lotim, dr. Hasbi Santosa yang dikonfirmasi terkait hasus Purnama mengutarakan pihaknya siap membantu untuk pengobatan. Biaya pengobatan akan disiapkan hingga rujukan ke tingkat provinsi bahkan jika ke RSUP Sanglah, Denpasar, Bali maupun ke rumah sakit yang ada di Jakarta.  (rus)