Korban Gigitan Menolak Divaksin Rabies

Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/dok)

Dinas Kesehatan (Dikes) NTB mencatat sembilan korban gigitan anjing rabies di Kabupaten Dompu meninggal. Dua korban gigitan anjing rabies meninggal karena menolak divaksin.

‘’Memang dua orang meninggal yang terakhir menolak diimunisasi. Pemahamannya masih ndak paham kalau imunisasi itu melindungi dia. Sembilan yang meninggal di Dompu semua,’’ jelas Kepala Dikes NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A, MPH dikonfirmasi di Kantor Gubernur, Jumat, 12 Juli 2019 siang.

Ia menjelaskan, masyarakat belum memahami bahwa akibat gigitan anjing rabies sangat dahsyat dibandingkan penyakit-penyakit lainnya. Sehingga mereka menolak untuk divaksin.

Baca juga:  WHO Kirim 2.400 Vaksin Anti Rabies ke Pulau Sumbawa

Secara umum, kata Nurhandini kasus gigitan anjing masih ditemukan di Kabupaten Dompu dan Bima. Di Kabupaten Dompu, kasus gigitan anjing rabies bergeser ke Kecamatan Pekat. Dulu, kasus gigitan anjing rabies banyak di Kecamatan Kempo. Setelah dilakukan eliminasi dan vaksinasi, jumlah kasus gigitan di Kecamatan Kempo berkurang. Tetapi sekarang justru bergeser ke Kecamatan Pekat. Hampir setiap minggu ditemukan ada kasus gigitan anjing rabies.

Disebutkan, jumlah kasus gigitan anjing di NTB sudah mencapai 1.321 kasus. Terbanyak di Kabupaten Dompu dan Bima. Dari jumlah korban gigitan sebanyak itu, baru sembilan orang yang positif rabies. Semua korban positif rabies sudah meninggal dunia.

Baca juga:  WHO Kirim 2.400 Vaksin Anti Rabies ke Pulau Sumbawa

Nurhandini menambahkan, sedang dilakukan penghitungan ulang jumlah populasi anjing di Dompu. Semula, jumlah anjing di Dompu diperkirakan sebanyak 11.000 ekor. Sebanyak 5.450 ekor anjing sudah divaksinasi. Sedangkan 4.600 ekor anjing liar sudah dieliminasi.

Namun populasi anjing terus meningkat karena setiap bulan beranak 3-8 ekor. ‘’Makanya kita sama-sama dengan Dompu kita hitung ulang lagi populasi anjing di sana. Karena ini menangkut vaksinasi. Kita harus tahu berapa kita beresin,” terangnya. (nas)