Pemprov Integrasikan Aktivitas Posyandu dan Program ‘’NTB Zero Waste’’

Hj. Hartina (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov akan mengintegrasikan program revitalisasi Posyandu dengan NTB Zero Waste. Integrasi ke dua program unggulan Pemprov NTB itu akan mengadopsi apa yang ada di Kabupaten Dompu.

Salah satu Puskesmas di Kelurahan Monta Baru mengintegrasikan program revitalisasi Posyandu dan NTB Zero Waste. Bagi masyarakat yang berobat ke Puskesmas atau Posyandu setempat cukup membawa sampah untuk membayar biaya pengobatan.

‘’Apa yang dilakukan Dompu akan kita replikasi ke seluruh NTB. Kita masih  membuat konsepnya sehingga bisa direplikasi ke tempat lain,’’ ujar Asisten III Administrasi Umum dan Aparatur Setda NTB, Ir. Hj. Hartina, MM dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 26 Juni 2019 siang.

Informasi yang diperoleh dari Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Dompu, integrasi program revitalisasi Posyandu dan NTB Zero Waste ini juga sudah banyak di Posyandu-Posyandu yang ada.

Hartina menjelaskan, sudah disusun pembagian peran antara provinsi, kabupaten/kota dan pemerintah desa terkait dua program prioritas Pemprov NTB ini. Masing-masing OPD akan mengkomunikasikan perannya dengan jajaran di kabupaten/kota.

Baca juga:  Kemenko Maritim Soroti Persoalan Sampah

Menurut Hartina, diskusi tentang revitalisasi Posyandu yang dilakukan di Kantor Harian Suara NTB beberapa waktu lalu membuka pemikiran kabupaten/kota terkait dengan revitalisasi Posyandu. Pemda kabupaten/kota mendukung program tersebut. Bahkan Tim Penggerak PKK lewat dasa wismanya juga akan bergerak.

Untuk itu, akan ada penandatangan kerjasama antara Dikes NTB dengan Dikes kabupate/kota, DPMPD Dukcapil NTB dengan DPMPD kabupaten/kota dan PKK NTB dengan PKK kabupaten/kota. Penandatanganan ini untuk menegaskan komitmen antara provinsi dan kabupaten/kota dalam upaya merevitalisasi Posyandu.

‘’Revitalisasi Posyandu ini  sebagian sudah jalan. Kita juga menginventarisir mana Posyandu percontohan untuk tempat pembelajaran. Contoh Puskesmas yang bergerak untuk zero waste di Dompu,’’ tuturnya.

Hartina menambahkan, biasanya Posyandu digunakan untuk mengukur berat badan balita dan pelayanan kepada ibu hamil. Ke depan, Posyandu menjadi ujung tombak menyampaikan banyak hal kepada masyarakat. Baik memperbaiki gizi masyarakat, masalah lingkungan, kesehatan, sosial dan lainnya.

Baca juga:  Dompu Contoh Baik Pengembangan Posyandu

‘’Sehingga dilakukan revitalisasi Posyandu. Harapannya, Posyandu kita ini menjadi Posyandu Keluarga. Posyandu keluarga diharapkan mampu memberikan pelayanan kepada semua umur,’’ ucapnya.

Dengan menjadi Posyandu Keluarga, nantinya akan ada  kelas stunting, gizi buruk, ibu hamil dan lainnya yang akan diaktifkan semua. Di samping persoalan kesehatan dan kelambagaan Posyandu, nanti akan dititipkan beberapa kegiatan sosialisasi. Contoh, bagaimana mempercepat pendewasaan usia perkawinan (PUP), mitigasi bencana, zero waste.

‘’Minimal mereka datang ke sana sudah mampu memilah dan nanti akan dibayar menggunakan sampah. Sudah ada contohnya, integrasi zero watse dan revitalisasi Posyandu. Biaya pengobatan ke Puskesmas ndak bayar pakai uang tapi sampah. Sama dengan Surabaya, naik bus kota bayar pakai sampah,’’ tandasnya. (nas)