Masyarakat Diimbau Waspadai Peredaran Obat Palsu ‘’Pil Halusinogen’’

Kepala BBPOM Mataram, Ni GAN Suarningsih, menunjukkan  obat palsu ‘’Pil Halusinogen’’ yang disita dalam sebuah operasi. (Suara NTB/ist)

Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Dr. Hj. Siti Rohmi Djalilah menghimbau masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan jika akan membeli obat. ‘’Berhati-hatilah jika akan membeli obat. Dan telitilah kemasannya. Izin edar dan tanggal kedaluwarsa pada produk obat dan makanan tersebut sebelum dikonsumsi,’’ pesan Umi Rohmi sapaan akrabnya di Mataram Rabu, 26 Juni 2019.

Bila menemukan hal-hal yang mencurigakan, Wagub meminta agar masyarakat melaporkan kepada aparat yang berwenang, termasuk apotek atau kios tempat penjualannya. Dan sebaliknya kepada instansi yang terkait, dimintanya agar lebih intens turun ke masyarakat. Memberikan sosialiasi dan edukasi kepada masyarakat. Sehingga tidak ada lagi celah bagi pelaku kejahatan, untuk mengedarkan obat-obat berbahaya di tengah ketidaktahuan dan ketidakmengertian masyarakat tentang jenis obat dan efek yang ditimbulkannya.

Imbauan tersebut disampaikan Wagub, menyusul ditemukannya peredaran ribuan tablet dari beberapa obat ilegal sejenis ‘’Pil Halusinogen’’ seperti  Trihexyphenidyl palsu,  yang jika dikonsumsi dapat menimbulkan efek buruk bagi kesehatan. Bahkan dapat merusak mental generasi kita.

Sebelumnya Kepala Balai Besar POM (BBPOM) Mataram, Dra. Ni GAN Suarningsih, Apt., MH telah mengumumkan bahwa berdasarkan hasil operasi tindakan pemberantasan obat ilegal dan penyalahgunaan obat yang dilakukannya, telah diamankan sebanyak 15.000 papan tablet Trihexyphenidyl ilegal dengan nilai Rp150.000.000, dari tangan tiga tersangka di Gomong, Mataram.

Baca juga:  Pasutri Dua Dasawarsa Kecanduan Sabu

Obat-obat yang diamankan tersebut adalah obat ilegal sejenis pereda rasa sakit.  Atau obat penenang untuk mengobati penyakit Parkinson. Tetapi kalau dipakai secara berlebihan, jelas Suarningsih, akan menimbulkan efek negatif seperti halusinasi, berperilaku negatif, merasa menjadi lebih berani dan terkadang brutal atau bertindak kriminal. Dan itu akan membuat siapapun yang mengkonsumsi menjadi tidak produktif.

‘’Bisa dibayangkan dampak dari pil Trihexyphenidyl illegal ini. Bila 1 orang mengkonsumsi 1 papan Trihexyphenidyl sebanyak 1 strip @ 10 tablet, maka akan ada 1.500 orang remaja dan generasi muda yang terkena kecanduan akibat penyalagunaan obat ilegal yang tidak terdaftar dalam BPOM ini,’’ jelasnya.

Ciri-ciri obat ilegal pereda rasa sakit Trihexyphenidyl, menurutnya dengan mudah dapat dikenali.Yakni kemasannya lebih kecil dari yang asli dan warnanya berbeda dari yang asli, strip pada obat tersebut hitam-hitam. Sedangkan yang asli strip warna hijau dan coklat. Obat ilegal ini warnanyapun mencolok dan berbeda dengan yang terdaftar di BPOM. Obat-obatan palsu ini akan berakibat pada kualitas manuasia indonesia.

Baca juga:  BNNP NTB Blender 480,76 Gram Sabu

Obat palsu tersebut kerap digunakan oleh banyak pelaku kriminal. Dan biasanya dikonsumsi sebelum melakukan tindak pidana  kejahatan. Misalnya, para pelaku perkelahian dan kasus kecelakaan lalu lintas, seringkali disebabkan karena mereka sebelumnya mengkonsumsi obat ilegal.

‘’Penggunaan obat ini, biasanya diminum 3-4 biji, dicampur kopi atau soda. Sehingga menimbulkan efek sensasi kepada pengguna, seperti berhayal dan berhalusinasi, mirip pengaruh Dextron atau Tramadol,’’ katanya.

Ia mengingatkan bahwa modus peredaran obat-obat ilegal dan berbahaya ini, biasanya pelaku menjual produknya secara langsung kepada remaja dan anak-anak.

Mereka (pelaku) biasanya memanfaatkan kekurang-pahaman masyarakat  tentang obat. Sehingga masyarakat belum memiliki kemampuan untuk dapat membedakan, antara jenis obat  yang asli dengan  obat palsu yang memberikan efek buruk jika dikonsumsi.

Karenanya, BPOM Mataram dan Polda NTB mengimbau masyarakat agar peduli terhadap lingkungan. Diantaranya dengan cara mengawasi gerak gerik apabila ada orang yang mencurigakan menjual dan mengedarkan obat-obat secara ilegal. (r)