Angka Gizi Buruk dan Stunting NTB di Atas Rata-rata Nasional

Menkes RI, Nila Djuwita F. Moeloek (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Prof. Dr.dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M (K) meminta NTB terus menekan tiga parameter status gizi balita NTB yang angkanya masih berada di atas rata-rata nasional. Tiga parameter status gizi balita yang dimaksud adalah balita gizi kurang dan gizi buruk, balita pendek dan sangat pendek, serta balita kurus dan sangat kurus.

Menkes membeberkan data tren status gizi balita 2013 – 2018 secara nasional. Untuk kasus gizi kurang dan gizi buruk turun dari 19,6 persen menjadi 17,7 persen. Kasus stunting atau balita pendek dan sangat pendek turun dari 37,2 persen menjadi 30,8 persen. Sedangkan untuk kasus balita kurus dan sangat kurus turun dari 12,1 persen menjadi 10,2 persen.

Untuk NTB, Menkes mengatakan tren status gizi balita memang mengalami penurunan. ‘’Namun jika dibandingkan dengan rata-rata angka nasional, NTB masih cukup tinggi,’’ katanya.

Baca juga:  Kunjungi NTB, Menkes Bahas Stunting hingga Peran Posyandu

Wapres kata Menkes,  sangat memperhatikan masalah stunting. ‘’Kita kerjanya multisektoral. Angkanya NTB turunnya jauh dari 45 persen ke 33 persen. Tapi turunkan lagi. (meskipun turun) tetap saja tinggi,’’ kata Nila saat memberikan pengarahan pada acara Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) di Mataram, Rabu, 13 Maret 2019 siang.

Ia memaparkan, tiga parameter status gizi balita yang ada di NTB 2013 – 2018. Untuk kasus balita gizi kurang dan buruk terjadi peningkatan dari 25,7 persen menjadi 26,4 persen. Angka ini masih berada di atas rata-rata nasional yang saat ini sebesar 17,7 persen.

Kemudian angka stunting di NTB terjadi penurunan dari 45,2 persen menjadi 33,5 persen. Meskipun terjadi penurunan, angka stunting di NTB masih berada di atas rata-rata nasional yang saat ini sebesar 30,8 persen.

Baca juga:  Turunkan Stunting dengan Kearifan Lokal

Selanjutnya, angka balita kurus dan sangat kurus meningkat dari 11,9 persen menjadi 14,4 persen. Sementara angka rata-rata nasional saat ini sebesar 10,2 persen.

Menkes juga menyoroti tingginya kasus penyakit hipertensi di NTB. Berdasarkan data Riskesdas 2018, kasus penyakit hipertensi meningkat dari 24,3 persen menjadi 27,8 persen. ‘’NTB ini hipertensi tinggi,’’ katanya.

Tingginya kasus penyakit hipertensi di NTB, kata Nila akibat perubahan gaya hidup masyarakat. Dulu, ketika fasilitas pariwisata seperti hotel-hotel besar belum terbangun di NTB, kasus hipertensi di daerah ini terbilang kecil. Namun sekarang angkanya hampir mencapai 28 persen.

‘’Sekarang banyak hotel besar-besar dan bagus-bagus. Saya kira memang gaya hidup kita sudah berubah,’’ tandasnya. (nas)