Tinggi, Kasus Bayi Kurang Gizi di Sembilan Kabupaten/Kota

Kadikes NTB, Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Kasus gizi buruk dan gizi kurang masih cukup tinggi di NTB. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, bayi di bawah dua tahun (Baduta) yang menderita gizi buruk sebesar 4,44 persen dan kurang gizi atau gizi kurang sebesar 14,41 persen.

Kasus Baduta kurang gizi masih cukup tinggi di sembilan kabupaten/kota di NTB. Dari 10 kabupaten/kota, hanya Kota Mataram yang angkanya di bawah 10 persen. Sedangkan sembilan kabupaten/kota lainnya, angka kasus Baduta kurang gizi berada di atas 10 persen.

Berdasarkan data Pemprov NTB yang diperoleh Suara NTB sesuai hasil Riskesdas 2018, angka kasus kurang gizi pada Baduta paling banyak di Lombok Tengah sebesar 19,08 persen. Kemudian disusul Kota Bima 16,36 persen, Bima 16 persen.

Selanjutnya, Lombok Utara 15,98 persen, Sumbawa 15,77 persen, Lombok Timur 15,31 persen, Dompu 10,75 persen, Lombok Barat 10,74 persen, Sumbawa Barat 12,47 persen dan Kota Mataram 5,27 persen.

Sementara untuk kasus Baduta gizi buruk paling banyak di Dompu sebesar 12,32 persen, Bima 7,77 persen, Lombok Timur 5,98 persen. Kemudian Kota Bima 5,56 pesen, Lombok Barat 4,09 persen, Sumbawa Barat 2,20 persen, Lombok Utara 1,43 persen, Kota Mataram 1,41 persen, Lombok Tengah 1,36 persen dan Sumbawa 1,23 persen.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A mengatakan bahwa memang ada peningkatan kasus gizi buruk di NTB. Untuk menekan kasus gizi buruk, kurang gizi dan stunting dilakukan revitalisasi Posyandu.

Ia mengatakan baru 67 persen ibu hamil atau ibu yang memiliki bayi memanfaatkan Posyandu. Sisanya 33 persen belum memanfaatkan Posyandu.

‘’Itulah permasalahan-permasalahannya. Itulah yang sekarang kita mau revitalisasi Posyandu,’’ ujarnya kepada Suara NTB, Rabu (6/3).

Nurhandini mengatakan, revitalisasi Posyandu tujuannya agar 100 persen ibu hamil atau ibu yang memiliki balita memanfaatkan Posyandu yang ada di masing-masing dusun. Melalui revitalisasi Posyandu diharapkan kasus-kasus seperti gizi buruk, gizi kurang dan stunting dapat dideteksi lebih awal. Sehingga lebih cepat ditangani.

‘’Kalau ada kasus-kasus yang membutuhkan penanganan. Ndak sampai parah baru ditemukan,’’ katanya.

Nurhandini mengatakan masih tingginya kasus gizi buruk dan gizi kurang akibat pengetahuan orang tua tentang gizi yang masih rendah.  Orang tua lebih banyak menuruti keinginan anaknya. Banyak anak yang kurang gizi karena mengkonsumsi snack daripada makanan bergizi.

‘’Yang ndak benar itu, anak tak boleh makan snack. Karena itu akan ‘’membunuh’’ nafsu makan. Kalau orang yang sadar, tak akan memberikan anaknya makan snack. Orang tua terlalu menuruti keinginan anak,’’ katanya.

Menurutnya, anak yang makan snack menjadi pintu masuk anak menjadi kurang gizi dan gizi buruk. Karena mereka diberikan mengkonsumsi makanan yang tidak sesuai dengan usianya. Penyebab dominan kasus gizi buruk dan gizi kurang adalah kemiskinan dan pengetahuan orang tua yang rendah.

Mengenai kasus gizi buruk yang ditemukan di Lombok Timur, Nurhandini mengatakan anak tersebut sebelumnya beberapa kali dirawat. Ia mengatakan anak tersebut menderita kelainan saraf. Dengan kelainan saraf tersebut, maka menelan makanan agak sulit.

‘’Mungkin orang tua berharap kalau sudah dirawat langsung baik. Kemudian ndak mau lagi bawa anaknya ke sarana kesehatan. Dengan keadaan sakitnya, tidak bisa menelan makanan dengan baik. Sehingga hanya bisa makan sedikit,’’ terangnya.

Sekarang pasien gizi buruk tersebut telah dibawa ke rumah sakit. Karena sulit menelan makanan, maka pasien harus dipasangkan selang yang diganti tiap seminggu sekali.  Dengan adanya selang maka akan membantu  terpenuhi kecukupan gizi.

‘’Makanya sekarang dikawal sama Pekerja Sosial Dinas Sosial. Pekerja sosial yang mendampingi. Karena kita butuh orang yang mengawasi dia di rumah kalau nanti pulang. Kalau merawat di rumah sakit, ndak susah kita,’’ katanya. (nas)