Khawatir Fenomena Gunung Es, Pemda Sisir Kasus Gizi Buruk

Ilustrasi penderita gizi buruk (Suara NTB/dok)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB mengaku langsung menerjunkan Dinas Kesehatan (Dikes) dan Dinas Sosial (Disos) untuk penanganan anak yang menderita gizi buruk di Lombok Timur (Lotim). Pemprov NTB dan Pemda kabupaten/kota melakukan penyisiran kasus gizi buruk di daerah melalui revitalisasi Posyandu.

Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Dra. T. Wismaningsih mengatakan, Pemda tak menyangka ada kasus gizi buruk seperti itu. Padahal sudah banyak program yang dilakukan pemerintah. Mengenai temuan kasus gizi buruk di Lotim, ia mempertanyakan apakah ada Posyandu di lokasi ditemukannya penderita gizi buruk tersebut.

‘’Ada ndak Posyandu-nya di desa itu tempat kejadian kemarin. Kemarin langsung dari Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan sudah turun ke sana. Pempov turun mengecek ke lokasi,’’ kata Wismaningsih dikonfirmasi Suara NTB, Selasa, 5 Maret 2019.

Ia mengatakan,  informasi dari Dikes NTB yang turun ke lokasi. Bahwa anak yang menderita gizi buruk tersebut pernah dirawat di RSUD Selong. Tetapi tidak mengalami perubahan yang signifikan. Sehingga kemungkinan orang tua membawa pulang  anaknya.

Wismaningsih berharap kasus penemuan gizi buruk di Lotim tersebut bukan fenomena gunung es. Untuk itu, upaya preventif perlu dilakukan. Sehingga, Pemprov melakukan revitalisasi Posyandu. Rencananya pada 11 Maret mendatang Pemprov akan menggelar rapat koordinasi bersama Pemda kabupaten/kota untuk membahas masalah revitalisasi Posyandu.

Dengan revitalisasi Posyandu diharapkan kasus gizi buruk dan lainnya dapat dideteksi lebih dini. Sehingga dapat dilakukan penanganan sejak awal, bukan ketika penyakitnya sudah parah.

Ia mengatakan,  ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami gizi buruk. Pertama, orang tuanya malas membawa anak ke Posyandu atau fasilitas kesehatan. Menurutnya, masalah gizi buruk bukan hanya masalah kemiskinan. Tetapi banyak orang tua yang tidak peduli atau enggan membawa anaknya ke Posyandu atau fasilitas kesehatan.

‘’Dengan adanya kasus ini Pemprov dan kabupaten/kota menyisir melalui revitalisasi Posyandu,’’ pungkasnya.

Data Dinas Kesehatan NTB pada tahun 2018 menunjukkan adanya peningkatan  kasus gizi buruk dibandingkan tahun sebelumnya. Dikes NTB mencatat, sepanjang 2018, sebanyak 217 kasus buruk ditemukan di 10 kabupaten/kota.

Tahun 2017, kasus gizi buruk di NTB sekitar 187 kasus. Sedangkan pada 2018 meningkat menjadi 217 kasus. Sebanyak 217 kasus gizi buruk yang ditemukan pada 2018 terdiri dari laki-laki 109 kasus dan perempuan 108 kasus. Tiga kabupaten terbanyak kasus gizi buruk yakni Lombok Timur 38 kasus, Lombok Utara 36 kasus dan Lombok Barat 31 kasus. (nas)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.