Raudatul Jannah, Penderita Gizi Buruk Akhirnya Dirawat di RSUD

Raudatul Jannah (9 tahun) anak yang divonis menderita penyakit kelainan syaraf kini mendapat perawatan di RSUD dr. R. Soedjono Selong. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Raudatul Jannah (9 tahun) penderita gizi buruk asal Dusun Tanak Betian, Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur (Lotim)  akhirnya mendapat perawatan di ruang anak kelas IIIB Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Soedjono Selong. Putri pertama  pasangan Salbiah dan almarhum Jaham divonis menderita penyakit kelainan syaraf oleh dokter sejak usia tiga tahun.

Kondisi Atul-sapaan akrabnya cukup memperihatinkan. Bocah kelahiran 22 Oktober 2010 itu menjadi anak yatim sejak ayahnya meninggal tahun 2017 lalu. Semenjak itu, perekonomian keluarga Raudatul Jannah semakin terpuruk dan penyakit yang dideritanya semakin buruk. ‘’Pengobatan hanya sampai Puskesmas. Hanya diberi obat penurun panas dan obat batuk, ‘’aku Salbiah saat ditemui di RSUD R. Soedjono Selong, Senin, 4 Maret 2019 petang kemarin.

Saat ini berat dari Raudatul Jannah, hanya 7 Kg. Ini tentunya jauh dari kata normal sebagaimana bocah seusianya yang saat ini sudah duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar (SD). Namun takdir berkata lain, jangankan pergi bersekolah menuntut ilmu. Untuk duduk, berjalan, bahkan untuk makan pun, Raudatul Jannah tidak bisa. Ia hanya mengandalkan bantuan ibunya yang begitu tulus dan ikhlas merawatnya di tengah himpitan ekonomi yang melilitnya. ‘’Tidak bisa apa-apa. Hanya tidur saja. Mulai dari badannya keras hingga kaki. Kata dokter ia mengalami kelainan saraf saat saya bawa berobat di usianya tiga tahun,’’tutur Salbiah.

Di tempat tinggalnya di Tanak Betian Desa Bebidas, Salbiah tinggal bersama Raudatul Jannah dan satu orang anak tirinya yang saat ini duduk di bangku SMA. Ia berjualan kerupuk dan bensin eceran dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun, usaha kecil-kecilan yang dilakoni Salbiah tidak terlepas dari lilitan utang yang nilainya tidak sedikit. Selain pinjaman uang di bank rontok untuk menjalankan usahanya, Salbiah juga harus menanggung sisa utang almarhum suaminya saat membangun rumah yang saat ini ditempatinya. ‘’Saya takut membawanya ke rumah sakit dari dulu. Saya tidak ada uang untuk bayar biaya pengobatannya,’’akunya.

Sementara selama 9 tahun Raudatul Jannah sakit, lanjut Salbiah, anaknya itu tidak pernah menerima berbagai jenis bantuan dari pemerintah. Tidak memiliki kartu BPJS, KIS dan sejenisnya untuk dipergunakan berobat. Termasuk tidak masuk dalam KPM PKH meski ia tergolong miskin. ‘’Sama sekali tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah,’’sebutnya.

Warga setempat, H. Saipudin, mengaku prihatin atas kondisi yang dialami Raudatul Jannah. Sehingga tidak sedikit warga di sekitarnya memberi bantuan untuk meringankan bebannya. Kondisi rumah Raudatul Jannah memang layak huni. Namun untuk memenuhi kebutahan sehari-hari yang sulit. ‘’Pernah mendapat bantuan kursi roda dari dompet dhuafa. Tapi lebih sering digendong oleh ibunya,’’ katanya.

Camat Wanasaba, Saharudin, menyebutkan belum mengetahui persis penyakit yang diderita oleh Raudatul Jannah. Namun, katanya, dari pemerintah kecamatan terus mendeteksi dan menangani masyarakat yang mengalami gizi buruk dengan membentuk tim penanganan gizi buruk dan stunting. ‘’Tetap kita lakukan sentuhan. Kita sudah bentuk tim,’’ ujarnya.

Maka dari itu, ia meminta kepada 14 desa di Kecamatan Wanasaba untuk aktif turun ke lapangan dan melaporkan apabila adanya masyarakat yang menderita penyakit dan membutuhkan penanganan intensif. ‘’Kita sudah tekankan dari awal supaya pemerintah desa melaporkan masyarakat yang sakit. Terutama gizi buruk, stunting, penyakit kelainan dan lain sebagainya,’’jelasnya.

Kades Bebidas, Harmain, mengatakan letak rumah Raudatul Jannah berada antara wilayah perbatasan Desa Suela dan Desa Bebidas. Sehingga setelah dilakukan pengecekan untuk penanganan kesehatan Raudatul Jannah bukan masuk sasaran Desa Bebidas. Melainkan untuk Posyandu-nya masuk wilayah Suela karena jaraknya yang lebih dekat.

Kendati demikian, selaku pemerintah desa ia langsung mengambil sikap dengan membawa Raudatul ke Puskesmas Karang Baru. Ternyata katanya, di Puskesmas itu ia tidak terdata dan terdata di Puskesmas Suela. ‘’Alasan tidak ke Puskesmas Karang Baru, Desa Bebidas karena mempertimbangkan biaya. Maka nantinya Kader maupun pihak Puskesmas yang datang langsung ke rumahnya,’’ katanya.

Harmain mengatakan, untuk kondisi perekonomian, orang tua Raudatul Jannah termasuk orang berada karena punya kios dan tanah dibandingkan yang lain. ‘’Tidak masuknya dalam KPM PKH, karena yang melakukan pendataan adalah pemerintah pusat,’’ katanya. (yon)