Bupati Dompu Minta Pemberitaan Rabies Satu Pintu

Bupati Dompu, H. Bambang M. Yasin

Dompu (Suara NTB) – Status Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies di Kabupaten Dompu kini menjadi topik nasional dan akan berdampak pada berbagai sektor kehidupan. Untuk mengendalikan informasi, pemberitaan soal rabies akan dilakukan melalui satu pintu dan dikoordinasikan. Petugas pun diminta untuk tidak mempublikasikan hasil kerja ke media sosial yang dapat berdampak pada interprestasi yang keliru.

Hal itu disampaikan Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin saat memimpin rapat tim penanggulangan rabies Kabupaten Dompu yang dihadiri juga oleh Dandim, Kapolres, Kajari Dompu, Balai Karantina Sumbawa, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB serta jajaran lain di ruang rapat Bupati, Senin,  28 Januari 2019.

“Kepada rekan – rekan media/pers, saya juga meminta dukungan untuk materi dan berita yang terkait dengan persoalan ini, kalau anda merasa ragu tentang persoalan yang ada, tentang apa yang anda sampaikan, saya minta berkoordinasi dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Dompu sebagai Ketua Tim Penanggulangan Rabies Kabupaten Dompu,” kata H. Bambang M. Yasin.

Tujuannya, kata H. Bambang, untuk mengendalikan publikasi informasi. “Karena yang kita inginkan ketenangan masyarakat. Yang kita cegah adalah kegaduhan, polemik dan sebagainya,” katanya.

Karena bagaimanapun, lanjut H. Bambang, masalah rabies sudah menjadi topik nasional dan ini akan berdampak pada berbagai sektor kehidupan yang lain. Ia pun mencontohkan sektor pariwisata, perdagangan hewan, mobilitas orang yang akan datang dan pergi dari wilayah kabupaten Dompu. “Karena itu bapak ibu, saya menyampaikan permintaan kepada rekan – rekan saya, saudara – saudara saya wartawan, supaya sekali lagi, berita tentang ini supaya saling berkoordinasi,” kata H. Bambang.

Untuk penanganan rabies di Kabupaten Dompu akan dibentuk tim pengendali pupulasi anjing. Tim ini diketuai Camat di masing – masing wilayah dan beranggotakan Kepala Desa dan Lurah. Tim ini akan melakukan eliminasi anjing liar dan anjing peliharaan yang terindikasi terpapar rabies selama 30 hari ke depan.

Dalam bekerja, tim diingatkan untuk tidak mengambil gambar dan mempublikasikannya. Hal ini untuk menghindari kegaduhan dan interpretasi yang berbeda – benda di tengah masyarakat. “SOP (penanganan KLB rabies) kita di Dompu. Jika bergerak, tidak boleh membawa HP android. Cukup dengan HP jadul saja, tidak ada foto – fotoan. Bila perlu ketika ada masyarakat yang memotret korban atau apapun yang kita lakukan itu, sebaiknya kita eliminasi fotonya,” harapnya.

Bupati juga meminta kepada Dinas PUPR yang bertugas menyiapkan lubang untuk mengubur anjing, Dinas LH yang mengangkut bangkai anjing, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan yang bertugas mengeliminasi anjing liar, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu yang bertugas menangani korban gigitan anjing untuk tidak saling menyalahkan. Tapi harus saling berkoordinasi dalam bekerja, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan.

“Dinas Kesehatan sesuai tupoksinya melakukan koordinasi dengan pemerintah atasan dan memastikan stok vaksin yang dibutuhkan untuk penanganan masalah ini, tersedia sepanjang waktu di Kabupaten Dompu,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Hj Iris Juwita Kastianti, SKM, MMKes menyampaikan stok vaksin untuk suntikan ketiga bagi 402 orang korban gigitan anjing di Kabupaten Dompu sebanyak 310 dosis. “Masih kurang 92 dosis. Karena suntikan vaksin bagi korban gigitan anjing ini minimal 4 dosis yang disuntik sebanyak 3 kali setelah digigit,” katanya. (ula)