275 Warga Digigit Anjing, Pulau Sumbawa Diisolasi dari Hewan Pembawa Rabies

Seorang petugas tengah menyingkirkan bangkai anjing dari jalan sebelum diambil bagian tubuhnya untuk dilakukan uji laboratorium, Selasa, 22 Januari 2019 di sekitar kantor Bupati Dompu. (Suara NTB/ula)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dikes) NTB menyebut sebanyak 275 warga di Dompu digigit anjing. Sampai saat ini dua orang warga dilaporkan meninggal akibat penyakit rabies.  Akibat kejadian tersebut, Balai Karantina Pertanian mengambil kebijakan untuk mengisolasi Pulau Sumbawa dari keluar masuknya hewan pembawa rabies (HPR) seperti anjing, kucing dan kera.

Kepala Dikes NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A dikonfirmasi usai rapat koordinasi penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies di Kabupaten Dompu, bertempat di Kantor Gubernur, Selasa, 22 Januari 2019 siang menyebutkan jumlah masyarakat yang menjadi korban gigitan anjing sebanyak 275 orang. Sebanyak enam kecamatan di Dompu ditemukan ratusan warga digigit anjing sejak Agustus 2018 – Januari 2019.

‘’Itulah yang kita tangani sekarang. 275 kasus totalnya ditangani. Semua kita lakukan vaksinasi. Dengan vaksinasi anti rabies, dia mendapatkan 4 dosis dalam 21 hari ini,’’ kata Nurhandini.

Pemberian vaksin kepada masyarakat yang digigit anjing untuk mencegah terjadinya penyakit rabies pada manusia. Hasil pengujian yang dilakukan terdapat sembilan anjing yang positif rabies di Dompu. Ia menjelaskan, ketika seseorang digigit anjing, maka setelah  masa inkubasi selama tiga bulan, penyakit rabies akan muncul.

‘’Yang meninggal kemarin itu digigit bulan November, meninggalnya Januari. Makanya semua yang digigit anjing kita vaksin,’’ katanya.

Nurhandini merincikan masyarakat Dompu yang digigit anjung sejak akhir 2018 lalu. Pada Januari 2019, ditemukan 122 warga yang digigit anjing. Pada Desember lalu sebanyak 94 orang, November 44 orang, Oktober 24 orang, sisanya Agustus dan September. Enam kecamatan yang ditemukan warga digigit anjing di Dompu yakni Kempo, Manggalewa, Dompu, Pajo, Hu’u dan Woja.

‘’Kenapa tidak terdeteksi, karena masyarakat menangani sendiri lukanya. Karena lukanya bukan luka dalam, luka sederhana. Sehingga mereka tidak ke Puskesmas,’’ tuturnya.

Ia mengimbau masyarakat jika digigit anjing atau hewan pembawa rabies agar mencuci lukanya menggunakan detergen di bawah air mengalir selama 15 menit. Setelah itu baru divaksin.

Vaksin untuk rabies ini, kata Nurhandini hanya ada di Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Bahkan pada awal tahun vaksin rabies yang ada di  Kemenkes stoknya  terbatas.

Ia menyebut sebanyak 190 orang sudah divaksin anti rabies. Sementara jumlah korban meninggal akibat gigitan anjing pembawa rabies sebanyak dua orang.

Menurutnya perlu ada kewaspadaan terhadap rabies. Jangan sampai ada anjing liar. Bahkan untuk anjing peliharaan harus divaksin. Nurhandini mengatakan akan datang 1.000 vaksin dari Kemenkes.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB, Ir. Hj. Budi Septiani mengatakan, pihaknya sudah membuat surat imbauan kepada 10 kabupaten/kota di NTB pada 16 Januari lalu. Isi surat imbauan tersebut meminta kabupaten/kota untuk mewaspadai hewan pembawa rabies di wilayah masing-masing.

‘’Karena enam kecamatan di Dompu  sudah terkena, berarti kita harus waspada. Sehingga sudah ditetapkan oleh Bupati Dompu sebagai KLB,’’ ujarnya.

Budi mengatakan, daerah-daerah perbatasan antar kabupaten/kota perlu diwaspadai keluar masuknya hewan pembawa rabies ini. Karena dikhawatirkan hewan pembawa rabies ini melintas ke kabupaten/kota di NTB.

‘’Sehingga kita harus lebih waspada lagi untuk meminta kabupaten/kota supaya mulai waspada dengan gigitan anjing ini. Hari ini kami menggelar pertemuan dengan seluruh kabupaten/kota se – NTB, Dinas Kesehatan, Karantina, TNI, beberapa OPD terkait,’’ terang Budi.

Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I  Sumbawa Besar, IBP Raka Ariana menambahkan, pihaknya akan melakukan pengawasan ketat selama 24 jam terhadap hewan pembawa rabies yang keluar masuk ke Pulau Sumbawa.  Ia mengatakan, Balai Karantina melarang keras keluar masuknya hewan pembawa rabies ke Pulau Sumbawa.

‘’Karena dikhawatirkan kalau masuk jelas akan menambah. Apalagi keluar, penyakit rabies yang ada di Sumbawa akan menyebar, dibawa HPR ini. Makanya imbauan saya, masyarakat jangan membawa HPR keluar masuk Sumbawa. Baik lewat darat, laut maupun udara,’’ katanya.

Ia menyebutkan, sekitar 95 persen penyakit rabies dibawa oleh anjing. Jika masyarakat digigit oleh anjing maka penyakit rabies akan menular ke manusia. Untuk itu, sedang dilakukan pemusnahan terhadap anjing-anjing liar yang ada di Dompu. Bagi masyarakat yang memiliki anjing peliharaan maka harus dilakukan vaksinasi.

‘’Anjing liar berpotensi besar sekali menularkan rabies. Dari Pulau Sumbawa harus diisolasi. Kita khawatir sekali di Sumbawa. Jangan sampai tertular ke kabupaten/kota lainnya,’’ tandasnya. (nas)