Disnakeswan NTB Jelaskan Dugaan Pemicu Kasus Rabies di Dompu

Kepala Disnakeswan NTB Hj. Budi Septiani (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Penyakit rabies yang dipicu gigitan anjing mengintai. Pemerintah daerah sedang mengkoordinasikan langkah penangannya. Penyakit rabies baru-baru ini terdeteksi di Kabupaten Dompu. Bahkan dinyatakan berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) setalah diketahui ada korban meninggal dunia setelah digigit anjing.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Dra. Hj. Budi Septiani menyebut, NTB termasuk daerah yang rawan berisiko tinggi terhadap masuknya Hewan Penular Rabies (HPR). Mengingat provinsi ini di apit oleh dua provinsi, Bali dan NTT yang merupakan daerah tertular rabies.

Terdeteksinya penyakit rabies di Kabupatan Dompu, dikhawatirkan akan menular ke daerah-daerah lain. Bila mana, anjing yang menularkan penyakit ini berpetualang lintas wilayah dan menggigit.

“Anjing larinya 10 kilometer sehari. Kalau sepanjang ia berlari, ada yang digigit hewan, atau manusia. Kan berisiko,” katanya.

Baca juga:  Kemenkes Apresiasi Langkah Pemprov Lokalisir Rabies

Adanya temuan penyakit rabies ini diduga akibat keluar masuk hewan secara ilegal ke NTB. karena itu, Pemprov NTB akan melakukan pertemuan dengan seluruh kepala dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan di NTB. Termasuk menghadirkan langsung tim dari Kementerian Pertanian Dirjen Peternakan.

Rabies atau yang dikenal juga dengan istilah “anjing gila” adalah infeksi virus pada otak dan sistem saraf. Penyakit ini tergolong sangat berbahaya karena berpotensi besar menyebabkan kematian. Tanda-tanda anjing membawa penyakit rabies dapat dikenali dari tingkah anjing, takut angin, cahaya dan manusia.

Kepala dinas mengatakan, penyakit rabies tidak dirasa langsung oleh korban pascadigigit. Penyakit ini akan berefek dua bulan, bahkan lebih dari satu tahun setelahnya. Sebab penyakit ini masuk lewat syaraf lalu menuju ke otak.

Baca juga:  Kemenkes Apresiasi Langkah Pemprov Lokalisir Rabies

Akibat merasakan dampaknya dalam rentang waktu yang relatif lama, akibatnya masyarakat menganggap digigit anjing menjadi hal yang biasa. Cenderung diabaikan. Padahal, gigitan anjing sangat berisiko.

Karena itulah, untuk meminimalisir lalu lalang hewan pembawa penyakit dari luar, Hj. Budi mengatakan koordinasi yang dilakukan dengan semua stakeholders juga melibatkan Karantina Hewan sebagai palang pintu keluar masuk hewan dan tumbuhan di pelabuhan dan di bandara.

Selain itu, ia meminta kepada masyarakat semaksimal mungkin agar terhindar dari gigitan anjing. Dilakukan eliminasi anjing liar. Dan diharapkan, kepada pemilik-pemilik anjing peliharaan untuk melakukan vaksinasi agar terhindar dari risiko. (bul)