Tekan Kasus Stunting, Kades di Lotim Dijanjikan Hadiah Umrah

Bupati Lotim H. M. Sukiman Azmy menandatangani komitmen bersama dengan para kepala desa untuk penanganan stunting. (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Kasus stunting di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terbilang cukup tinggi. Jika dipersentasekan dari keseluruhan anak di Lotim, jumlah yang terpapar kasus stunting ini mencapai 37,1 persen. Bupati Lotim, H. M. Sukiman Azmy pun menjanjikan umrah kepada para kepala desa yang berhasil menekan kasus stunting di desa masing-masing.

Hal ini disampaikan Bupati Sukiman saat bertemu dengan para kepala desa dalam acara membangun komitmen bersama penanganan stunting di Kabupaten Lotim, Rabu,  9 Januari 2019.

Bupati menegaskan, kepala desa merupakan pimpinan di desa. Kepedulian para kepala desa ini sangat menentukan keberhasilan dalam menuntaskan masalah stunting.  Apalagi Lotim masuk dalam 160 kabupaten/kota yang sangat besar kasusnya. Bupati menduga, jumlah stunting di Lotim berada pada posisi teratas. Karenanya dibutuhkan langkah akseleratif dalam penanganan stunting.

Baca juga:  Turunkan Stunting dengan Kearifan Lokal

Indikator yang ditetapkan cukup berat. Apakah sudah ada Peraturan Desa (Perdes), berapa anggaran yang disiapkan dalam Alokasi Dana Desa (ADD). Bagaimana kesiapan kader posyandu dan indikator lainnya.

Soal stunting, hadir dalam pertemuan dengan para kepala desa ini Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan, Doddy Iswardy yang memberikan penjelasan terkait stunting. Dikatakan penanganan stanting tidak bisa hanya di Dinas Kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan semua organisasi pemerintah daerah. Sementara di tingkat pusat dilibatkan 12 kementerian dan lembaga.

Stunting atau gagal tumbuh terjadi karena sejumlah hal. Antara lain karena pola asuh, kondisi sanitasi yang tidak bersih atau lingkungan yang tidak sehat. Khusus Lotim dinilai soal makanan sebenarnya tidaklah masalah. Pasalnya, makanan masyarakat Lotim disebut cukup bergizi. Tinggal pola asuh dan kondisi lingkungan.

Baca juga:  Laporan Penanganan Stunting Jadi Syarat Pencairan DD 2020

Gagal tumbuh bisa mudah dideteksi. Seorang ibu hamil yang baru melahirkan bayinya bisa melihat faktor risiko saat berat badan lahir rendah (BBLR). Jika di bawah 2,5 kg dan panjang badan lahir kurang dari 48 cm  maka itu sudah ada faktor risiko,” ungkapnya.

Pandangan masyarakat yang menyebut gagal tumbuh ini karena faktor genetik katanya kurang tepat. Keturunan yang pendek tidak selamanya akan melahirkan keturunan pendek. Memang ada dari genetik, namun sangat kecil sumbangannya.

Faktor risiko stunting akan kelihatan usia 2 tahun. Terjadi gagal tumbuh dan gagal perkembangan, serta gangguan metabolisme. Kondisi ini harus diperhatikan oleh masyarakat. Karena anak yang gagal tumbuh ini sangat besar pengaruhnya pada pertumbuhan tingkat kecerdasan. Untuk itu harus terus dilakukan pemantauan. (rus)