Terjangkit Diare dan Gatal-gatal, Klinik Gratis ‘’Diserbu’’ Pengungsi di KLU

Klinik gratis yang dipadati pengungsi di Kecamatan Kayangan. Banyak di antara pengungsi yang terjangkit diare dan gatal-gatal. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Hanya berselang 3 jam, Klinik Samudera Indonesia diserbu oleh puluhan masyarakat yang tinggal di Posko Pengungsian Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan. Mereka terlihat antusias dengan pelayanan ramah dan cepat yang digalang oleh volunteer Yayasan Endri’s Foundation.

Klinik Samudera Indonesia adalah klinik bantuan yang dibuka oleh PT. Samudera Indonesia bersama Yayasan EF Kabupaten Lombok Utara. Hari pertama pembukaan, Senin, 17 September 2018, 38 pasien yang datang dari berbagai dusun mengantre.

Pantauan koran ini, dari diagnosa perawat dan dokter umum yang melayani warga rata-rata warga mulai dan masih mengidap batuk pilek akibat cuaca panas, kering dan berdebu di pengungsian. Tidak hanya itu mereka juga terserang diare dan gatal-gatal. Hal ini dimungkinkan karena warga kekurangan pasokan air bersih, terutama untuk mandi.

Inaq Semah (65), warga Lokok Rangan, Desa Kayangan ini mengaku, mengalami sakit mencret (diare). Ia juga kerap pusing akibat pengap dan panasnya bermukim di bawah tenda. “Saya mencret, sering pusing, sakit mata, badan juga gatal-gatal,” aku Inaq Semah saat ditanya perawat klinik.

Untuk diketahui, warga Lokok Rangan dan sekitarnya mendirikan posko pengungsian di samping kediaman Wakil Bupati KLU, Sarifudin, SH. MH. Di antara pengungsi, dominan menetap di posko daripada mereka yang kembali dan menata perumahannya pascagempa.
Inaq Kas, misalnya, mengaku belum bisa kembali ke kediamannya. Berada di pinggir pantai dusun setempat, Kas bersama suami belum bisa membuang sampah. “Rumah saya di pinggir pantai. Lahan pekarangan hanya hanya di rumah itu berdiri. Jadi kami bingung membuang sampah kemana,” ujar Kas saat akan mengobati anaknya, Gifari, usia 7 bulan.
Direktur Yayasan EF KLU, Tarpi’in Adam, menyimpulkan pelayanan tahap pertama Senin kemarin dibuka dari pukul 10 sampai pukul 13.00 wita. Terdata sebanyak 38 orang warga yang mengunjungi klinik. Jumlah ini lebih besar dari estimasi karena tidak jauh dari klinik terdapat puskesmas.

“Pasien yang datang 38 orang dengan jenis penyakit didominasi batuk dan pilek, gatal-gatal dan mencret/diare. Tahap pertama pelayanan kita buka dari jam 10 s/d jam 01.00 wita. Dan akan dilanjutkan sore hari sampai malam,” ujarnya.

EF dan Samudera Indonesia menargetkan pelayanan kesehatan gratis di masa transisi dilakukan selama 3 bulan ke depan. Namun periode itu bisa saja diperpanjang tergantung kepada kondisi yang ada. Selama itu, warga dilayani oleh 3 orang dokter, masing-masing 1 orang spesialis bedah, 1 orang spesialis gigi, dan 1 orang dokter umum. Mereka dibantu oleh 6 orang perawat dan petugas farmasi.

“Klinik Samudera Indonesia ini hadir karena adanya kepedulian, apalgi kita ketahui bersama faskes di KLU hancur pasca gempa, tentu kesehatan ini menjadi masalah kita bersama,” ujarnya.

Program Manajer PT. Samudera Indonesia, Nadia Anette, menambahkan klinik gratis dihadirkan kepada warga terdampak gempa. Perusahaan menyediakan 2 unit kontainer sebagai tempat pemeriksaan, dan 1 kontainer lain untuk menyimpan obat.

“Samudera Indonesia ingin berkontribusi bagi warga korban gempa sesuai kemampuan. Dari obrolan kami dengan warga sebelumnya, banyak dari mereka tidak berani masuk gedung, sehingga kami siapkan kontainer,” ujarnya. (ari)