Tingkat Imunisasi Rendah, Wabah Difteri Dikhawatirkan Serang Mataram

Mataram (Suara NTB) – Kesadaran masyarakat memberikan imunisasi kepada anak mereka relatif rendah. Tercatat hingga Oktober baru 85 persen telah mendapatkan vaksin kekebalan tubuh tersebut. Rendahnya kesadaran masyarakat dikhawatirkan wabah difteri akan menyerang warga Mataram.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Usman Hadi mengharapkan penyakit tersebut tidak ditemukan di Mataram. Meskipun, ia mengakui masih banyak orangtua yang enggan memberikan imunisasi terhadap anak mereka. Dia mencatat hingga Oktober lalu baru 85 persen anak – anak telah mendapatkan imunisasi. Sementara sisanya belum mendapatkan vaksin kekebalan tubuh tersebut.

“Mudah – mudahan sampai akhir tahun ini 90 persen. Karena target kita setiap bulan itu 7,5 persen capaian,” kata Usman pekan kemarin. Usman tidak mengetahui sebagian warga menolak imunisasi anak mereka. Ia memiliki pengalaman saat bertugas di Maluku bahwa imunisasi itu sangat baik bagi kekebalan tubuh balita.

Meskipun demikian, Dikes tetap berupaya mensosialisasikan ke masyarakat serta melibatkan dai kesehatan agar memberikan pemahaman terhadap masyarakat. “Iya, kita terus sosialisasikan ke masyarakat. Kita ada dai kesehatan juga,” ucapnya.

Dia menjelaskan, penyakit difteri ini disebabkan oleh bakteri disebut corolium defteria. Penyakit ini menular melalui kontak secara langsung baik bersin dan ludah. Ini bisa dicegah dengan imunisasi.

Tetapi persoalannya tingkat imunisasi di Indonesia belum mencapai 100 persen, termasuk di Kota Mataram baru 85 persen. “Bu Menteri juga sampaikan begitu,” tuturnya. Semestinya, anak berusia 2 sampai 4 bulan harus mendapatkan tiga kali imuniasi. Kemudian berlanjut pada anak – anak usia kelas 1, 2 dan 3 sekolah dasar.

Usman menyadari, pandangan masyarakat tentang imunisasi berbeda – beda. Sebagian beranggapan bahwa imunisasi menyebabkan autisme. Bahkan, rumor yang berkembang ada kandungan babi. “Tidak ada kandungan babi. Kalau ada pasti tercantum di sana. Semua ahli sudah menyanggah kok. Cuman ada rumornya sudah lama begitu,” jawabnya.

Sejauh ini kata dia, belum ada ditemukan keluhan penyakit tersebut di Mataram. Namun, ia berharap tidak menemukan penyakit yang bisa menyebabkan kematian tersebut. (cem)