Bayi Empat Tahun Divonis Derita Gizi Buruk

Praya (Suara NTB) – Seorang balita usia empat tahun, Azzami asal Dusun Pemantek Daye Desa Loang Make Kecamatan Janapria Lombok Tengah (Loteng), divonis mengalami gizi buruk. Putri kedua pasangan Masiun dan Suharni ini terdeteksi menderita gizi buruk sejak berusia enam bulan. Hingga kini, karena faktor ekonomi kedua orang tua Azzami pun tidak mampu membiayai pengobatan yang terbilang cukup tinggi.

Suharni, ibu Azzami yang ditemuai di rumahnya, Sabtu, 11 Maret 2017, mengungkapkan, Azzami sendiri lahir dengan normal pada 21 Juni 2012 lalu. Namun ketika masuk usia enam bulan, Azzami mulai menunjukkan gejala gizi buruk. Dimana berat badannya tidak kunjung naik.

Tidak hanya itu, Azzami juga belum bisa duduk. Sementara anak-anak seusianya kala itu sudah bisa duduk bahkan merangkak. Dengan kemampuan seadanya, orang tua Azzami terus berupaya memberikan pengobatan. Mulai dari pengobatan tradisional hingga pengobatan modern.

Memasuki usia dua tahun lebih, kedua orang tua Azzami memilih untuk berangkat menjadi TKI ke Malaysia. Karena sudah tidak punya biaya untuk membantu pengobatan Azzami. Beberapa kali orang tua Azzami mengirim uang untuk biaya pengobatan. Namun kondisi Azzami tidak kunjung membaik.

Baca juga:  21 Ribu Korban Gempa di NTB Jatuh Miskin

“Begitu mengetahui kalau Azzami mengalami gizi buruk, kami berdua langsung berangkat ke Malaysia sebagai TKI,” ujar Suharni. Sebab, setelah dionis menderita gizi buruk oleh dokter rumah sakit yang memeriksa Azzami, butuh biaya cukup besar untuk mengobatinya.

Sementara kondisi ekonomi keluarga Azzami, cukup memprihatinkan. “Kala itu, dokter menyarankan kita untuk melakukan terapi menggunakan laser. Tapi untuk sekali laser butuh dana sebesar mencapai Rp 1,5 juta. Sedangkan kemampuan ekonomi kami pas-pasan. Sehingga tidak ada pilihan selain mengadu nasip sebagai TKI,” terangnya.

Akan tetapi, hasil menjadi TKI juga tidak sebesar. Sehingga setelah 9 bulan bekerja di Malaysia, kedua orang tua Azzami memilih pulang. Terlebih ayah Azzami sakit di rantau. “Jadi nyaris semua pengobatan modern maupun tradisional sudah kita coba. Namun tidak kunjung membuahkan hasil,” tambah Suharni.

Baca juga:  21 Ribu Korban Gempa di NTB Jatuh Miskin

Berat badan Azzami tak kunjug naik. Kendati dari pihak puskemas, cukup intens memberikan bantuan makanan dan susu. Akan tetapi kondisi Azzami tidak juga membaik. Justru kondisi Azzami dulu sempat drop, saat dirawat di RSUD Praya.

Sehingga pihak keluarga memutuskan untuk membawa pulang. Untuk dirawat dirumah dengan kondisi seadanya sampai sekarang ini. “Kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Karena memang kondisi ekonomi kita seperti ini,” timpalnya.

Di tempat yang sama, Kepala Desa Loang Make Masrijono, berkomitmen untuk membantu Azzami dan keluarganya. Sesuai kemampuan yang dimiliki. Pihaknya desa nantinya akan bersurat ke pemerintah daerah, supaya juga ada dukungan yang diberikan. Karena besarnya biaya yang dibutuhkan.

Disatu sisi, pemerintah desa juga tidak punya anggaran yang mencukupi untuk mendukung pengobatan Azzami. Tapi paling tidak bisa sedikit meringankan beban keluarga Azzami. “Kita dari pemerintah daerah juga akan lebih pro aktif mencarikan solusi atau jalan keluar bagi Azzami dan keluargnya,” tandasnya. (kir)