Krisis Air Bersih Pengaruhi Kesehatan Warga

Selong (Suara NTB) – Kekeringan dan krisis air bersih yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) saat ini semakin mengkhawatirkan. Pasalnya, krisis air bersih yang dialami masyarakat di bagian selatan sangat berpengaruh terhadap kesehatan mereka. Faktanya, dari tanggal 1 September sampai saat ini tercatat sebanyak dua warga mengalami penyakit kulit yang dirawat di Puskesmas Jerowaru. Diduga, penyakit kulit yang diderita masyarakat lantaran minimnya ketersediaan air bersih baik untuk minum maupun mandi.

Dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 21 September 2016, Kepala Puskesmas Jerowaru, Ahmad Rofi’i, S.ST menjelaskan, kondisi kekeringan dan krisis air bersih yang dialami masyarakat khususnya di Kecamatan Jerowaru sudah cukup memperihatinkan. Di mana, semua sumur dan tampungan air masyarakat rata-rata sudah mengering, baik untuk kebutuhan minum ataupun mandi.

Baca juga:  Tangani Krisis Air, Hitung Kemampuan Daerah

Kondisi itu, katanya, tentu akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat, seperti terjadi penyakit kulit, diare dan beberapa penyakit lainnya. “Jangankan untuk keperluan mandi, untuk minum saja masyarakat harus membeli,”jelasnya.

Kendati demikian, katanya, dari tanggal 1 September sampai sekarang belum terlihat mana-mana penyakit yang terlalu menonjol, terutama disebabkan ketersediaan air bersih. Dari 216 pasien yang dirawat, baru dua  pasien yang mengalami penyakit kulit akibat krisis air bersih dan 12 orang terindikasi mengidap penyakit inspeksi saluran pernapasan dan lainnya merupakan penyakit tidak menular. “Kalau kita melihat dari jumlah pasien bulan ini. Jumlah dua orang itu tidak terlalu signifikan,” terangnya.

Baca juga:  NTB Mengalami Kekeringan Ekstrem

Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Urusan Logistik pada BPBD Lotim, M. Takdir Illahi mengatakan, hampir 12 kecamatan yang rawan kekeringan dan krisis air bersih sudah dirasakan oleh masyarakat. Dari jumlah itu, katanya, yang paling parah terdapat di Kecamatan Jerowaru dengan 13 desa di kecamatan sudah mengalami krisis air bersih, baik untuk minum terlebih mandi.

Selain mendapatkan air bersih yang didropkan oleh BPBD Lotim secara gratis, jelasnya, masyarakat juga membeli seharga Rp 100 ribu sampai Rp 250 ribu per 5.000 liter tergantung dari jarak tempuh. (yon)