Setiap Tahun, Lebih dari Tiga Juta Nyawa Melayang Akibat Hepatitis

Mataram (suarantb.com) – Berdasarkan hasil penelitian, penderita penyakit hepatitis di Indonesia berada pada kisaran angka 7,1 persen. Penyakit ini juga tampaknya menjadi salah satu penyakit paling mematikan karena merenggut nyawa lebih dari tiga juta penduduk Indonesia setiap tahunnya.

Direktur P2PML Kementerian Kesehatan, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes pada acara peringatan hari Hepatitis Dunia di Mataram , Sabtu, 13 Agustus 2016, mengemukakan, untuk penanganan penyakit mematikan tersebut, NTB masih menjadi daerah piloting atau daerah yang menjadi fokus penanganan hepatitis di dunia.

Penanganan penyakit hepatitis ini masih menggunakan program pemerintah terdahulu. Dimana pada tahun  1987, NTB  pernah menjadi piloting penanganan hepatitis dunia.

“Untuk penanganan ini kan NTB itu piloting untuk dunia. Jadi piloting yang pernah dilakukan di Mataram itu tahun 1987,  Mataram menjadi  piloting untuk memberikan hepatitis bulan 0 pada bayi, kemudian bulan ke dua, ke tiga dan ke empat. Itu yang menjadi program pemerintah sekarang,”  ujarnya.

Wiendra mengatakan meskipun sempat terjadi penurunan angka  penyakit hepatitis, namun jumlah penduduk yang mengidap hepatitis B dan C masih tinggi. Bahkan, berdasarkan data yang ada setiap tahunnya terdapat sekitar tiga juta jiwa penduduk Indonesia, atau 0,4 persen yang akhirnya meninggal dunia karena mengidap hepatitis B dan C. Di NTB sendiri, jumlah mengidap hepatitis diperkirakan mencapai dua persen dari jumlah penduduk.

“Sekalipun sudah terjadi penurunan, namun masih tinggi kita di Indonesia. Diperkirakan terkena hepatitis B dan C,” sebutnya.

Jika seseorang terkena hepatitis B, C dan E tingkat endemiknya tinggi, dan dipastikan 50 persen dari penderitanya akan meninggal dunia jika tidak terdeteksi sejak dini. “Tapi kalau B endeminitas tinggi pasti kurang lebih 50 persen penderitanya akan meninggal jika tidak terdeteksi sejak dini. Kalau penderitanya berapa juta, ya paling yang meniggal sekitar 50 persen,” jelasnya.

Ia mengatakan yang paling rentan kena virus hepatitis ini adalah usia produktif. Jika terkena pada bayi maka 95 persen akan kronis.

“Jika dia usia produktif maka akan memakan biaya.  Tidak lagi bisa  berkarya dan berprestasi lagi, jadi prestasinya hilang, kasih sayang yang diberikan oleh keluarga dan Negara tidak akan berguna karena munculnya sekarang. Beban negara juga. BPJS uangnya ke situ semua,” tandasnya. (ism)