Garuda Indonesia Perkenalkan Digital ’’Navigation Chart’’

Garuda Indonesia meluncurkan inovasi terbarunya, ‘’Digital Navigation Chart’’ hasil kerjasama dengan Jeppesen Sanderson, Inc., anak perusahaan Boeing. (Suara NTB/ist)

Cengkareng (Suara NTB) – Maskapai nasional Garuda Indonesia resmi meluncurkan inovasi terbarunya dalam mempelopori digitalisasi sistem layanan operasional penerbangan di Indonesia berupa transformasi digital navigation chart dengan menggunakan aplikasi electronic flight bag (EFB) Jeppesen FliteDeck Pro hasil kerjasama dengan Jeppesen Sanderson, Inc, yang merupakan anak perusahaan dari Boeing.

Direktur Operasi Garuda Indonesia Capt. Bambang Adisurya Angkasa mengatakan, hadirnya digital navigation chart tersebut merupakan upaya optimalisasi operasional navigasi di Garuda Indonesia sekaligus menjadi komitmen perusahaan dalam mempelopori komitmen menuju paperless airline dengan penerapan digital navigation chart dalam tata kelola operasional penerbangan.

Adapun melalui penggunaan digital navigation chart ini diharapkan dapat memaksimalkan efisiensi biaya melalui proses bisnis yang lebih efektif dan efisien. Penggunaan digital navigation chart ini sekaligus mengurangi cost hingga 59% per tahun dari aspek biaya manual navigation chart melalui kerjasama kontrak yang baru termasuk gratis paket JeppFD.

Digital navigation chart juga turut berpotensi menghemat biaya perawatan mesin pesawat. Inisiasi transformasi navigation chart sejalan dengan komitmen perusahaan dalam melaksanakan program efisiensi berkelanjutan dengan mengoptimalkan perkembangan inovasi platform teknologi informasi yang dapat menekan biaya produksi Perusahaan.

Baca juga:  Pelaku Wisata Dukung Pembukaan Rute Lombok - Darwin

“Jika dibandingkan sebelumnya, navigation chart yang seluruhnya masih menggunakan hard copy dalam bentuk buku kini dapat diakses hanya dengan aplikasi di tablet PC, tentunya hal ini akan memberikan nilai tambah bagi Perusahaan, khususnya terkait komitmen maskapai dalam menegakan prinsip-prinsip paperless airlines,’’ kata Capt. Bambang.

Lebih lanjut, aplikasi navigation chart Jeppesen FliteDeck Pro mampu meningkatkan aspek keamanan pada saat di udara karena kemudahan akses informasi dan distribusi data serta komunikasi antar lini operasional dapat berlangsung jauh lebih cepat, tepat dan akurat.

Dengan demikian beban kerja dan waktu persiapan yang dilakukan para pilot ketika berada di cockpit dapat berkurang. Selain itu, digital navigation chart diharapkan dapat meminimalisir potensi gangguan penerbangan akibat data manual yang belum diperbarui.

Aplikasi digital navigation chart secara dinamis akan menampilkan informasi detail mengenai enroute weather layer, in App NOTAM, real-time data, GPS-based positional awareness, vector-based terminal charts yang mampu mendorong kesadaran situasional para pilot pada saat di dalam cockpit.

Baca juga:  AirAsia Luncurkan Lima Rute Domestik, Jakarta-Lombok Cuma Rp635.000

Capt. Bambang menyampaikan bahwa aplikasi Jeppesen Flite Deck Pro juga terintegrasi dengan aplikasi Electronic Flight Bag (EFB) Project lainnya yang salah satunya adalah e-performance calculation untuk meningkatkan kecepatan dan keakuratan pada saat aircraft performance calculation.

Proses transformasi digital navigation chart sendiri akan dilakukan secara bertahap, untuk saat ini implementasi digitalisasi dilakukan pada pesawat wide-body jenis Boeing 777 dan Airbus 330 serta tercatat 800 pilot sudah didaftarkan untuk menggunakan tablet PC yang telah terpasang aplikasi Jeppesen FliteDeck Pro.

“Kami berharap hadirnya digital navigation chart saat ini akan mendorong Perusahaan untuk mewujudkan operational excellence berskala global serta turut meningkatkan pelayanan terbaik bagi para pengguna jasa Garuda Indonesia,’’ tutup Capt. Bambang

Komitmen Perusahaan dalam memaksimalkan operasional berwawasan lingkungan juga dicapai melalui program tanggung jawab Perusahaan lainnya seperti program konservasi air dan energi listrik di lingkup Perusahaan, konservasi bahan bakar, serta peremajaan pesawat yang bertujuan menurunkan tingkat gas emisi karbon dioksida. (*)