Gapensi Tekankan Pentingnya Mengedepankan Kontraktor Lokal

H. Salman. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Amblasnya infrastruktur penataan tebing pada proyek revitalisasi Senggigi tahun 2020 patut menjadi pelajaran, betapa pentingnya mengedepankan kontraktor lokal. Sebagai yang memahami topografi wilayahnya dalam membantu pembangunan daerah. Diketahui, tebing di pinggir jalan tanjakan Dusun Batubolong Desa Batulayar Barat Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat amblas pada Sabtu, 6 Februari 2021.

Padahal proyek ini usai dikerjakan akhir tahun 2020. Untuk proyek revitalisasi Senggigi, diketahui pemenang tendernya adalah CV. Wndy Dwiputra yang beralamat di Jl. Dg. Tata III Lr.3 Perum Asri Jaya B/5 Makassar (Kota), Sulawesi Selatan untuk bagian penataan rest area kawasan sekitar Hotel Pasific. Lalu untuk penataan rest area sekitar Hotel Sheraton dimenangkan oleh PT. Sanur Jaya Utama beralamat di Jalan Setia Budi, Kuta-Badung Provinsi Bali. Dan penataan rest area sekitar Alberto dimenangkan oleh CV. Alfandi Putra di Dusun Lendang Sedi, Giri Sasak Kecamatan Kuripan Kabupaten Lombok Barat.

Iklan

Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kabupaten Lombok Barat, H. Salman, SH di kantornya, Senin, 15 Februari 2021 menegaskan, penting pemerintah memberikan kepercayaan kepada pengusaha yang bergerak di bidang jasa kontruksi lokal. “Pengusaha lokal yang tau bagaimana kondisi alam daerahnya. Sehingga ia bisa menyesuaikan bangun konstruksi yang dibuat. Kalau menggunakan pengusaha luar, yang dia tahu hanya membangun, tanpa mengetahui bagaimana situasi alam di daerah,” katanya kepada Suara NTB.

Salman tidak menyebut langsung, amblasnya proyek revitalisasi Senggigi akibat curah hujan tinggi. Padahal, proyek ini masih dalam masa pemeliharaan dan berusia seumur jagung pasca selesai pembangunan. Memberdayagunakan pengusaha lokal adalah persoalan non teknis. Tapi H. Salman percaya, sangat erat kaitannya secara teknis. Amblasnya proyek revitalisasi Senggigi kini tengah menjadi perhatian aparat penegak hukum. Meskipun pengacara ini sebetulnya juga sangat berharap, penyelesaian kasus ini sementara dilakukan secara kekeluargaan.

Mengingat, proyek yang amblas ini masih dalam status masa pemeliharaan. Sehingga ada kewajiban untuk penggantian kembali pekerjaan yang rusak. Menurut dia, amblasnya bagian dari proyek revitalisasi Senggigi ini dipengaruhi beberapa faktor. Melihat langsung kondisi lokasi, ia menduga ada kekeliruan dalam perencanaan. Artinya, yang lebih dominan harusnya bertanggungjawab adalah konsultan perencana.

“Kenapa saya katakana demikian, karena penopangan balok tebung ada di atas tanah lama. Ini artinya, apakah pernah diuji kemapuan daya topang dasar atau tidak, awalnya dari perencanaan. Kalau memang tidak diuji, harusnya jangan dilaksanakan,” ujarnya. Sehingga yang harus dilakukan adalah, duduk bersama antara kontraktor, pengawas, PPK, dan konsultan perencana.

Amblasnya talud lama disebabkan oleh ketidakmpuan penopang beban yang ada di atasnya. Mestinya karena tebingnya tinggi, harusnya dibuat pondasi baru yang lebih kuat dan tinggi menggunakan beton bertulang, lalu dilakukan beberapa kali pemadatan tanah urug. Sebelum dipermukaannya dibuatkan trotoar atau rest area. Harus dibuat  pemecah ombak sehingga tebing tidak langsung dihantam ombak yang mengakibatkan fisiknya amblas. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional