Gapensi NTB Sayangkan Pembangunan Drainase di KEK Mandalika Ditender Internasional

Salah satu bagian proyek KEK Mandalika yang saat ini dikebut.(Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) -Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Seluruh Indonesia (Gapensi) Provinsi NTB menyayangkan, pembangunan kawasan khusus Mandalika di Kuta Lombok Tengah minim kearifan lokal. Tidak banyak melibatkan kontraktor lokal. Yang paling disayangkan adalah dua paket pembangunan drainase di kawasan Mandalika, dilelang secara terbuka. Mengikutkan para kontraktor dari berbagai negara. Termasuk perusahaan-perusahaan konstruksi besar milik pemerintah (BUMN).

Nilai paketnya hanya Rp16 miliar, Rp20 miliar. Dilelang secara internasional melalui zoom. Ada juga dari Jepang. Bahkan kita ndak tau apa maksud yang disampaikan. Semuanya menggunakan bahasa internasional, kata Ketua Gapensi Provinsi NTB, Kukuh Sugiarto di sela-sela mengikuti tender dengan zoom, Jumat (25/9) kemarin. Tender drainase ini menggunakan anggaran yang dipinjamkan dari luar negeri.

Iklan

Paket-paket pembangunan di KEK Mandalika yang bersumber dari anggaran luar, lelangnya juga dilakukan secara global. Menurut Kukuh, seharusnya melibatkan kontraktor lokal. Apalagi dalam ketentuannya, nilai proyek di bawah Rp100 miliar, khsususnya proyek pemerintah, dapat dikerjakan oleh kontraktor swasta lokal. Diatas Rp100 miliar, dapat dilelang terbuka dan memberikan kesempatan kepada BUMN, ataupun perusahaan-perusahaan kontraktor luar negeri.

Nilai paket proyek puluhan miliar, bagi kontrakror lokal sangat bisa dilakukan. Apalagi hanya sekedar untuk pembangunan drainase. Agar lebih banyak pengusaha atau kontraktor lokal ikut berkecimpung dalam mega proyek infrastruktur pariwisata yang akan dijadikan tuan rumah pelaksanaan MotoGP 2021 ini.

Belum lama ini, para kontraktor dan pengusaha lain yang tergabung dalam Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Provinsi NTB melakukan kunjungan silaturrahim ke pengelola KEK Mandalika, yaitu Indonesian Tourism Development Cororation (ITDC). Kunjungan ini sekaligus pengusaha-pengusaha lokal meminta masukan bagian-bagian mana proyek di Mandalika ini pengusaha lokal bisa memasukinya.

Untuk kontraktor memang belum final. Dalam penjelasan ITDC, karena kebanyakan sumber anggarannya dari pinjaman luar negeri, paket-paket proyeknya juga di atas 100 miliar, tendernya dilakukan global, kata Kukuh. Padahal, harapannya. Ada kebijakan yang lebih memihak kepada kontraktor lokal. Setidaknya dikerjasamakan dengan pemenang tender. (bul)