Galian C di Tengah Kampung, Tower SUTT Terancam Erosi

Lokasi galian C di Dusun Luk Barat, Desa Samil Bangkol, Kecamatan Gangga yang dikeluhkan warga. Apalagi, tower SUTT yang ada di lokasi terancam tumbang akibat aktivitas galian C. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Warga Dusun Luk Barat, Desa Samil Bangkol, Kecamatan Gangga dibuat resah oleh aktivitas tambang galian C. Pasalnya, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB telanjur memberi izin kepada pihak swasta untuk mengeksploitasi galian C yang notabene berada tengah perkampungan Lokok Meang dan Dusun Luk Barat.

Penelusuran koran ini, Senin, 2 Mei 2019, lokasi galian C Dusun Luk Barat, berada di tengah perkampungan. Lokasi itu juga berdekatan dengan daerah aliran Sungai Dusun Luk. Aktivitas galian C dusun setempat tidak hanya menyebabkan debu, tetapi juga ancaman erosi bagi warga Kampung Lokok Meang dan warga Dusun Luk Barat.

Iklan

Kepala Dusun Luk Barat, Isa Suroso, bersama sejumlah warga di kediamannya berharap pemerintah daerah baik provinsi dan kabupaten menutup lokasi galian C. Pasalnya, warga setempat sudah sangat resah dengan aktivitas penambangan tersebut.

Sejatinya, warga sudah menolak sejak eksplorasi dilakukan pemegang izin yang diketahui milik Raden Satriadi alias Beldur. Sebab warga sudah menduga, eksplorasi mengganggu ekosistem lingkungan setempat. Salah satunya, ancaman erosi lahan perkampungan di sekitar lokasi galian.

“Saat pemberian izin oleh dinas, pihak pemerintah tidak berkoordinasi dengan warga di sini. Akibatnya perkampungan Luk Barat ini terancam karena lokasi penggalian juga berada di pinggir kali,” ujar Isa.

Kadus Luk Barat menyebut, lokasi Galian C dibeli dari warga Luk Timur bernama Sumardi. Areal yang ditambang sekitar 1 hektar. Sudah setahun terakhir ini, lokasi digali oleh pemilik izin. “Kabar yang kami terima, sekarang penggalian dialihkan kepada H. Sabah,” ujar warga sembari mempertanyakan pemindahtanganan izin.

Tidak hanya kenyamanan warga, tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) milik PLN juga terancam tumbang. Pasalnya, titik tower hanya berjarak sekitar 5 meter dari batas penggalian.

“Padahal lokasi galian ini sudah diberikan kompensasi oleh PLN kepada pemilik lahan sebelum dijual. Kami khawatir, kalau SUTT ini tumbang, maka kawat SUTT akan menimpa warga di sini,” kata Ketua Kader Lingkungan Dusun Luk, Hasupan.

Pihaknya pun menuntut agar pemerintah daerah menutup lokasi tersebut. “Apalagi aktivitas tambang tetap berlangsung pada malam hari. Kami terkejut karena tiba-tiba ada getaran dari galian C. Kami kira ada gempa,” imbuh Hasupan mengklaim masih trauma gempa.

Terpisah, Kepala Desa Samik Bangkol, Jamaludin, S.Sos., didampingi Sekdes Samba, Hadianto, mengakui pihak desa hanya terlibat mengeluarkan surat keterangan yang membenarkan bahwa pemegang izin galian C adalah pemilik sah dari lahan tersebut. Pihaknya tidak terlibat dalam kegiatan survei ataupun memberikan rekomendasi lahan tersebut dijadikan galian C.

Hadianto menguatkan bahwa pihaknya tidak menyangkal kekhawatiran warga. Oleh karenanya, mereka berharap Pemprov segera menutup lokasi tersebut.

Sementara, dihubungi via telepon, Kepala Bidang Penataan dan Penaatan Lingkungan Hidup, Dinas LH PKPK KLU, Sony Sonjaya, S.Hut. M.Si., mengakui sebagai konsekuensi dari aktivitas tambang, maka pihaknya akan turun ke lapangan. Lokasi Galian C di tengah kampung harus ditinjau kembali agar tidak menimbulkan ekses di di masyarakat.

“Sebagai konsekuensi kami akan panggil pemilik izin, dan Dinas juga akan turun ke lapangan menyerap keluhan masyarakat, serta melihat Izin Usaha Eksplorasi, Izin Usaha Produksi yang dipegang. Yang jelas informasi ini harus kita tindaklanjuti,” tegasnya singkat. (ari)