Gairahkan Wisata KLU di Tengah Covid-19

Wisatawan mancanegara ikut terlibat bersih sampah bersama media dan Humas dan Protokol KLU di Senaru Beberapa Waktu yang lalu. (Suara NTB/ari)

Tanjung (Suara NTB) – Geliat wisata di Kabupaten Lombok Utara (KLU) ke depan, diyakini sangat bergantung kesiapan daerah menyambut perhelatan MotoGP. Dalam rangka itu, stakeholder khususnya OPD terkait Pemda Lombok Utara diminta mempersiapkan diri. Salah satunya, calendar of event khusus wisata spiritual adat dan budaya.

Saran tersebut dikemukakan Ketua Gili Hotel’s Association (GHA) Lombok Utara, Lalu Kusnawan, Selasa, 5 Januari 2021. Menurut dia, Lombok Utara memiliki absolute adventages dari keberadaan wisata spiritual. Paket wisata ini tidak ada di daerah lain di NTB.

“Fokus wisata ke depan adalah MotoGP. Sejauh info yang kita terima, progresnya on the track. Artinya di sana, slide internasional terbuka. Sebagai penyeimbang, KLU harus mempersiapkan culture tourism dengan baik,” ujar Kusnawan.

Selain sebagai Ketua GHA, Kusnawan juga bertindak selaku Ketua Laskar Sasak. Ia sudah dan akan menggenapi road show ke sejumlah tokoh adat baik di Sesait, Gumantar, Bayan, termasuk di Gangga dan Tanjung. Tujuannya, untuk menyamakan persepsi agar pelaku adat nantinya menyiapkan diri menyambut ‘cipratan’ arus kunjungan selama perhelatan MotoGP Mandalika.

Ia bahkan optimis, 2-3 bulan sebelum dan sesudah MotoGP, wisatawan masih akan mencari objek wisata adat dan budaya di Lombok Utara untuk menambah pengalaman para pelancong.

Landscape market domestik juga harus kita sasar.Bagaimana mengajak mereka ke wisata spiritual. Ke Masjid Kuno Bayan, Masjid Kuno Sesait, makam (petilasan), dan sebagainya. Itu salah satu cara, agar adat budaya kita tidak hilang dan menjadi komoditas wisata yang bernilai ekonomi,” tambahnya.

Ia merespon positif adanya visi misi bupati terilih, bahwa tanah Pecatu Adat yang memiliki historis kepemilikan akan dikembalikan ke masyarakat. Menurut dia, langkah harus dilakukan untuk mendukung eksistensi masyarakat adat, khususnya pemerintah desa.

“Kalau dikembalikan, masyarakat adat bisa berbuat lebih. Mudahan bisa terealisasi. Sebab kalau tidak begitu, dari mana masyarakat adat membudayakan kultur-nya,” sebutnya.

Di sisi lain, dalam beberapa komunikasi dengan pelaku adat, Kusnawan mendorong pelaku adat menyiapkan tempat untuk menyambut kalender event. “Saya sudah keliling, bertemu tokoh adat, dan berharap bisa menyatukan keterkaitan adat satu sama lain, sekaligus memperkenalkan budaya kita kepada masyarakat internasional,” tandasnya. (ari)