Formulir C1 Diduga Palsu Beredar di KSB

Salinan C1 yang diduga palsu di Kabupaten Sumbawa Barat. (Suara NTB/bug)

Taliwang (Suara NTB) – Formulir C1 yang menjadi pegangan para saksi peserta Pemilu diduga ada yang palsu.  Dugaan C1 palsu itu setidaknya ditemukan di Kecamatan Taliwang, Daerah Pemilhan (Dapil) 1 untuk DPRD Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).

Temuan formulir C1 diduga palsu itu diungkapkan salah seorang saksi partai saat mengikuti rekapitulasi di Kantor Kecamatan Taliwang, Senin, 22 April 2019. Saksi parpol yang namanya enggan disebutkan itu, kepada Suara NTB menunjukkan beberapa berkas C1 yang dimilikinya lebih dari satu untuk Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang sama.

Iklan

‘’Salah satunya TPS 8 Kelurahan Dalam. Saya punya dua C1-nya. Yang satu asli lembarannya dan satunya lagi fotokopian,’’ sebut saksi tadi.

Ia menyebutkan, kedua formulir C1 tersebut diterimanya di waktu hampir bersamaan usai proses pencoblosan 17 April lalu. Saat dicroscek, hasil hitungannya ternyata ada perbedaan. Di beberapa partai perolehan suaranya berbeda antara formulir asli dan fotokopian tersebut.

‘’Yang fotokopi ini kami pastikan palsu. Tapi pertanyaannya mengapa ini bisa beredar di masyarakat,’’ cetusnya.

Fotokopi C1 palsu itu, kata saksi tadi, berpotensi menyesatkan di proses rekapitulasi. Pasalnya, untuk penggadaan formulir, KPU juga menggunakan fotokopi. Sehingga ada kemungkinan saksi meyakini data-data hitungan pada C1 palsu tersebut.

‘’Kan datanya beda ini. Bagaimana kalau saksi lebih percaya C1 palsu itu karena misalnya menguntungkan partainya. Apa tidak jadi perdebatan panjang kemudian saat rekapitulasi,’’ katanya.

Ia meyakini, ada banyak beredar C1 palsu dan turut juga dikantongi saksi parpol lainnya. Sebab yang ada di dokumennya sendiri khusus untuk DPRD KSB Dapil I tidak hanya pada TPS 8 Kelurahan Dalam.

‘’Ada banyak. Ada kami pegang C1 TPS Batu Putih, Desa Lalar Liang formulirnya ada fotokopian. Begitu croscek, data hitungannya ada beda di beberapa parpol,’’ sambungnya.

Pihaknya sejauh ini tidak mempersoalkan hadirnya C1 diduga palsu itu. Karena pertama perubahan perolehan suara yang tertera antara C1 formulir asli dengan yang palsunya bukan pada partainya dan kedua partainya sementara ini tidak dijagokan meraih kursi di Dapil I DPRD KSB.

‘’Dan kami memang selalu mengembalikan ke C1 Plano. Kalau dua-duanya yang kami pegang ini beda kan aturannya merujuk pada C1 Plano,” urainya seraya menambahkan akan lain kemudian jika ada Parpol yang merasa dirugikan.

‘’Ini misal saja ya. Kalau antara partai A dan B saling bersaing suaranya. Pasti masing-masing mengklaim C1 yang menguntungkan mereka,’’ sambungnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua KPU KSB, Denny Saputra, S.Pd mengaku, untuk memperbanyak formulir C1 yang berisi data hasil perhitungan suara tingkat TPS, KPPS dibenarkan melakukan penggandaan dengan cara difotokopi.

Akan tetapi proses penggandaan benar-benar C1 asli yang berisi hasil hitungan resmi TPS dengan dibuktikan telah ditandatangani oleh ketua dan seluruh anggota KPSS serta seluruh saksi peserta Pemilu. ‘Ya memang boleh KPPS memfotokopi C1 itu. Tapi harus yang asli dan lengkap tanda tangannya,’’ terangnya.

Karena itu terkait temuan dugaan fomulir C1 palsu yang beredar, pihaknya tidak mengetahui asal muasalnya. ‘’Kami tidak mau spekulasi dari mana ya. Tapi saran kami kepada saksi, kalau misalnya mereka pegang dan jadikan rujukan saat rekap dan ditemukan perbedaan maka aturannya final merujuk pada C1 Plano,’’ tegasnya.

Dari pemeriksaan yang dilakukan media ini terhadap fisik formulir C1 diduga palsu itu, dapat diketahui pemalsuan yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab itu tidak begitu rapi. Selain memang berupa fotokopian, tulisan pada kolom isian tidak seragam. Selain itu tidak seluruh anggota KPPS dan saksi TPS membubuhkan tanda tangannya. (bug)