Flu Burung Muncul Lagi, Pemprov NTB Minta Perketat Pengamanan Unggas

Salah satu kandang unggas di Lombok Barat (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Belum selesai penanganan virus corona di China, muncul lagi kasus lama, virus flu burung. Juga muncul di China. NTB-pun atensi masuknya virus mematikan ini. Provinsi NTB pernah dijangkiti gejala flu burung. Dibawah tahun 2005. Setelah adanya informasi kasus flu burung ini muncul lagi diawal tahun 2020 ini, antisipasi juga dilakukan.

“Sebenarnya bukan antisipasi dadakan. Saya sudah minta Kepala Bidang dan rumah sakit hewan untuk memperketat pengamanan di sentra-sentra unggas,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Ir. Hj. Budi Septiani. Pengetatan pengamanan dimaksud dengan biosecurity di masing-masing wilayah pengembangan unggas.

Iklan

Menurut WHO, biosekuriti terdiri dari dua elemen penting yaitu bio-ekslusi dan bio-kontaimen. Pada mulanya, program biosekuritas dilakukan untuk menghasilkan unggas yang bebas penyakit tertentu (spesific patogen free) untuk keperluan penelitian secara eksperimental. Mengapa biosekuriti banyak digunakan untuk peternakan unggas atau ayam? Hal ini karena peternakan ayam merupakan jenis peternakan yang rawan terhadap virus yang menyebabkan ayam mati mendadak.

Tujuan penerapan biosekuriti pada seluruh sektor peternakan, baik di industri perunggasan atau peternakan lainnya adalah mencegah semua kemungkinan penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit. Mengurangi risiko penyebaran mikroorganisme penyebab penyakit yang mengancam sektor peternakan.

Sistem pengamanan dengan biosekuriti menurut kepala dinas, diantaranya dengan rumah (perkampungan), kandang unggas, dan kandang hewan lain  berada pada lokasi terpisah. Pembatasan secara ketat keluar masuk pekerja orang/ tamu/ dari atau ke lokasi peternakan. Pembatasan secara ketat terhadap keluar masuk material (hewan/unggas, produk unggas, pakan, kotoran unggas, alas kandang, litter, rak telur) yang dapat membawa agen penyakit.

Setiap orang yang masuk atau keluar peternakan harus mencuci tangan dengan sabun. Unggas yang mati harus dibakar atau dikubur. Tidak membawa unggas sakit atau bangkai unggas keluar dari area peternakan. Air kotor hasil sisa pencucian langsung dialirkan keluar kandang secara terpisah melalui saluran limbah ke tempat penampungan limbah (septik tank) sehingga tidak tergenang di sekitar kandang atau jalan masuk kandang.

“Untuk pengusaha-pengusaha unggas besar. Biosekuriti ini sudah diterapkan. Mereka sudah punya pengamanan,” jelas kepala dinas. Kesiapan lain untuk mengantisipasi virus unggas adalah SDM dan sarana prasarana kesehatan yang memadai. Hj. Budi mengatakan NTB memiliki dokter-dokter hewan dan petugas kesehatan hewan yang tersebar. “Kita juga sistem pelaporan dimana daerah-daerah yang rentan dengan penyakit.  Kita punya paramedis, dokter hewan, dan UPT yang ada di kabupaten/kota. Di Sumbawa masih aktif Poskeswannya,” demikian Hj. Budi. (bul)