Fesyar Virtual 2021, Momentum Peningkatan Usaha Syariah di Indonesia Timur

Heru Saptaji. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Bank Indonesia Provinsi NTB menyelenggarakan kegiatan webinar pemberdayaan usaha syariah (pesantren dan non pesantren) Rabu, 28 Juli 2021. Mengusung tema “Bersinergi Membangun Ekonomi dan Keuangan Syariah untuk Memperkuat Momentum Pemulihan Ekonomi Melalui Keunggulan Sumber Daya Regional”.

Webinar ini bagian dari rangkaian Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Kawasan Timur Indonesia diselenggarakan pada tanggal 27 Juli sampai dengan 3 Agustus 2021 secara virtual. Bank Indonesia Provinsi NTB menghadirkan narasumber, Yono Haryono,Ph.D dari Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia.

Iklan

Kepala Kanwil Kementerian agama Provinsi NTB Dr. H. M. Zaidi Abdad, M.Ag. Selain itu, webinar ini  menghadirkan tiga Pondok Pesantren Unggulan Regional se-Kawasan Timur Indonesia yang merupakan finalis lombak Ponpes unggulan Fesyar Kawasan Timur Indonesia 2021 sebagai narasumber. Ketiga pondok pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Trubus Iman dari Kalimantan Timur, Pondok Pesantren Yatofa dari Provinsi NTB, dan Pondok Pesantren Hidayatullah dari Sulawesi Selatan.

Kehadiran ketiga pondok pesantren ini untuk berbagi pengalaman dan informasi terkait kegiatan pengembangan ekonomi pesantrennya diharapkan dapat menjadi role model sehingga nantinya dapat dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi pondok pesantren lainnya dan pengembangan ekonomi syariah berbasis pesantren pada umumnya.

Pada webinar ini, sekaligus diumumkan bahwa Pondok Pesantren Yatofa berhasil meraih juara 2 sebagai Pondok Pesantren Unggulan mewakili Provinsi NTB. Diharapkan raihan ini dapat memicu pondok pesantren lainnya, khususnya di Provinsi NTB untuk mengembangkan kemandirian ekonomi pesantren. Pondok Pesantren ini sekaligus akan diberikan bantuan untuk mengembangkan usaha pondok pesantren.

Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Heru Saptaji menyampaikan bahwa salah satu sumber kekuatan ekonomi regional, khususnya di Kawasan Timur Indonesia ialah pondok pesantren dan UMKM. Berdasarkan data Kementerian Agama, jumlah pondok pesantren yang tersebar di 18 Provinsi Kawasan Timur Indonesia mencapai 2198 pondok pesantren.

Di Provinsi NTB sendiri, terdapat 684 pondok pesantren. Hal ini menunjukkan potensi yang sangat besar apabila dapat mengoptimalkan usaha syariah pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di Provinsi NTB, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang dilakukan oleh Bank Indonesia Provinsi NTB dilaksanakan dalam berbagai kegiatan seperti capacity building (pelatihan dan webinar), pemberdayaan kemandirian ekonomi pesantren melalui pembentukan Holding Bisnis Pesantren (Hebitren), dan peningkatan kapasitas produksi pesantren dengan pertanian organik.

Di samping itu, Bank Indonesia juga mendorong pengembangan UMKM Syariah diantaranya melalui pendampingan Anggota IKRA Indonesia, Fasilitasi Sertifikasi Halal, Pemberdayaan Wirausaha Syariah Berbasis Masjid, pengembangan fashion halal melalui kegiatan Moslem Fashion Industry, serta berbagai program scale up lainnya, pungkas Heru Saptaji.

Kegiatan Webinar terkait model pemberdayaan usaha syariah ini diharapkan dapat mendorong terciptanya business linkage antara pesantren dan UMKM, serta mendorong pengembangan dan akselerasi ekonomi syariah, khususnya di Kawasan Timur Indonesia.

Lebih lanjut, Heru Saptaji mengatakan bahwa pelaksanaan kegiatan Fesyar Kawasan Timur Indonesia 2021 ini dapat menjadi momentum untuk mewujudkan peningkatan usaha syariah sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih luas baik bagi masyarakat, bangsa dan negara, serta dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional