Festival Tambora Menyisakan Sampah

Dompu (Suara NTB) – Sampah masih menjadi persoalan yang cukup serius di arena puncak pelaksanaan Festival Pesona Tambora (FPT) padang Savana Doro Ncanga Dompu, termasuk pada event tahun 2017. Namun serakan sampah plastik dan sisa makanan pengunjung pasca puncak FPT 2017 dibersihkan anggota kemah bhakti pramuka di Doro Ncanga.

Ketua panitia perkemahan bhakti Pramuka pesona Tambora dan Jambore Konservasi tahun 2017, Yani Hartono, SP kepada Suara NTB, Kamis, 13 April 2017, mengungkapkan banyaknya sampah yang berserakan di padang Savana Doro Ncanga yang menjadi lokasi puncak FPT tahun 2017.

Iklan

Setelah puncak acara, Selasa, 11 April 2017 lalu, pengunjung yang ikut memadati padang savana dan mendirikan perkemahan justru meninggalkan sampah plastik serta sampah sisa makanan setelah membubarkan diri.

Sampah yang berserakan di padang savana, diakui Yani Hartno, langsung dibersihkan anggota pramuka peserta kemah pesona Tambora dan jambore konservasi tahun 2017 dalam kegiatan sapu gunung Tambora bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Gunung Tambora tahun 2017. Hanya saja, upaya pembersihan hanya dilakukan dengan mengumpulkan sampah dan tidak diangkut ke tempat pembuangan sampah.

“Karena tidak ada mobil pengangkut sampah, kita hanya mengumpulkan saja,” jelasnya.

Kontainer sampah yang disiapkan Dinas Lingkungan Hidup, diakui Yani Hartono, justru berada di sekitar komplek perkemahan warga. Karena tidak terlihat jelas, warga pun tidak banyak memanfaatkan untuk menjadikan tempat penampungan sampah. Sementara pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu baru akan melakukan pembersihan padang savana bersama pihak ketigaakhir pekan ini.

Yani berharap, pada event FPT tahun berikutnya agar lebih efektif pembersihan lokasi padang savana dari sampah sisa perkemahan, warga dihimbau untuk menyiapkan sendiri karung sampah dan membayar biaya pembersihan sampah Rp 10 ribu per kemah. Ketimbang membebani pengunjung dengan parkir kendaraan hingga Rp 20 ribu per unit mobil. Upaya ini akan lebih efektif dalam menjaga kebersihan di lokasi acara FPT.

Ia juga menyoroti soal dukungan pemerintah terhadap peserta kemah yang relatif tidak ada. Baik ketersediaan air bersih maupun WC umum. Padahal peserta kemah pramuka memberikan kontribusi nyata dalam kunjungan wisatawan nusantara maupun menjaga kebersihan dan kelestarian alam.

“Kita punya banyak tenaga, tapi kita ndak punya keuangan. Untunganya ada dukungan dari Balai Taman Nasional yang menyiapkan mesin pompa dan kita gunakan untuk menarik air sumur warga. Padahal sumber air yang didroping pemerintah hanya jaraknya sekitar 100an meter. WC pun kita pakai WC darurat berdinding karung,” ungkapnya.

Karenanya, Yani berharap kedepan agar ada dukungan lebih dari pemerintah daerah bagi pelaksanaan perkemahan. Dengan demikian, pihaknya akan siapkan menghadirkan peserta dari provinsi tetangga seperti dari Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB sendiri. “Kalau sekarang pesertanya ada juga dari luar Dompu, walaupun lingkupnya NTB,” katanya.

Kepala bidang Promosi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu, Dr Nuril Furkan yang dihubungi terpisah, mengaku, sampah sisa kegiatan FPT di padang Savana Doro Ncanga sudah dibersihkan. Pembersihan ini semula direncanakan Sabtu dan Minggu ini, tapi karena sudah dibersihkan sebagian oleh anggota Pramuka, sehingga diputuskan pembersihan, Kamis, 13 April 2017 kemarin.

“Sampahnya ada yang dibakar, karena hanya sampah plastik dan kayu bekas perkemahan. Saya memang tidak ikut, tapi dari gambar foto yang dikirim ke WA terlihat,” katanya.

Pembersihan sampah ini digawangi langsung oleh Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dompu, Syamsul Huriah bersama 15 orang jajaran pariwata. Anggota LSM yang digawangi Capung juga melakukan pembersihan dan anggarannya sudah dicairkan pihak LSM. “Anggaran pembersihan sampah oleh LSM itu sudah diambil,” kata Nuril Furkan. (ula)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here