Festival Budaya,  Ubah Stigma Negatif Masyarakat Adat Bayan

Tanjung (suarantb.com) – Masyarakat adat Bayan Kabupaten Lombok Utara (KLU) menggelar festival budaya  bertajuk ‘Dari Bayan Menuju KLU yang Inklusif’. Acara yang dibuka Wakil Bupati (Wabup) KLU, Sarifudin, SH, itu serangkaian HUT KLU ke-8.

Festival budaya adat Bayan itu digelar sejak tanggal 14 – 15 Juli 2016. Pada kesempatan tersebut Wabup mengatakan budaya dan adat istiadat masyakat Bayan harus tetap dilestarikan sebagai ikon budaya KLU.

Iklan

Dalam festival budaya adat Bayan itu dipentaskan seni tradisional  dan pameran alat tradisional masyarakat Bayan.  Puncak acara pada, Jumat, 15 Juli 2016 dipentaskan Tarian Suling Dewa dan Drama Cupak Gurantang.

Panitia Penyelenggara, Hamdi mengatakan pesan yang disampaikan dari pergelaran acara tersebut untuk melestarikan adat istiadat masyarakat Bayan yang mampu menjaga harmonisasi alam dan lingkungan sosial. Serta mendorong terciptanya masyarakat adat Bayan yang inklusif dengan mengedepankan nilai-nilai inklusi sosial.

“Dengan adanya momen festival ini, kita mengajak semua pihak untuk mengubah stigma negatif tentang masyarakat adat Bayan,” ujar Hamdi, Minggu, 17 Juli 2016.

Hamdi menjelaskan pameran tersebut menyuguhkan hasil-hasil ekonomi kreatif masyarakat adat Bayan. Seperti tenun, kerajinan tangan berbahan batok kelapa, dan alat-alat tradisional lainnya. Menurut Hamdi, ekonomi kreatif masyarakat Bayan harus terus didorong sebagai upaya peningkatan ekonomi.

Ketua Panitia Festival Budaya Adat Bayan, Renaldi, S.Pd yang dihubungi suarantb.com, mengatakan tujuan diselenggarakan acara tersebut untuk membuktikan bahwa masyarakat adat Bayan bukanlah yang selama ini dikatakan tidak berpendidikan. Namun justru dengan kesadaran yang dimilikinya, masyarakat adat mampu menjaga nilai-nilai sosial dan kelestrarian lingkungan.

“Rumah mereka semuanya dari bambu, tidak menonjol dari lainnya. Hal tersebut demi kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Manfaat dari digelarnya festival adat ini, menurutnya memiliki nilai ekonomis ke depannya. Dimana dapat mempromosikan kreativitas masyarakat adat berupa hasil kerajinan pada masyarakat luar. Sehingga kedepannya dapat membawa nilai ekonomis bagi masyarakat adat.

Ia berharap kepada pemerintah untuk segera menerbitkan Perda terkait pengakuan terhadap masyarakat adat. Serta melibatkan masyarakat adat dalam merancang konsep-konsep acara yang melibatkan masyarakat lokal.

“Dan ketika membuat promosi tentang masyarakat adat, mohon melibatkan masyarakat dalam merancang konsep promosi tersebut,” harapnya. (szr)

 

Advertisement filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional