Fenomena Maskawin Murah, MUI Khawatir Pernikahan Jadi Permainan

H. Saiful Muslim (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB khawatir dengan fenomena pernikahan dengan maskawin sandal jepit, segelas air, ratusan butir telur dan uang sebesar Rp1.000 terjadi di NTB dan viral di media sosial beberapa waktu terakhir. MUI merasa khawatir dengan fenomena seperti ini, karena kesakralan pernikahan dikhawatirkan akan menjadi rusak.

‘’Kita harus mencari tahu mereka yang melaksanakan pernikahan itu sesungguhnya apa dibenak mereka? Sehingga dia menetapkan maskawinnya sandal jepit, segelas air, telur ayam dan uang Rp1.000. Yang kita khawatirkan, jangan sampai menjadi permainan. Jadi, rusaklah nilai sakralnya pernikahan itu,’’ ujar Ketua MUI NTB, Prof. H. Saiful Muslim dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 6 Agustus 2020.

Iklan

Ia mengatakan, pernikahan adalah sunah rasul. Dalam ajaran agama, permintaan maskawin dari calon mempelai perempuan disesuaikan dengan tingkat kemampuan calon suami. Sehingga permintaan maskawin tidak memberatkan calon suami.

‘’Tapi terpenuhi syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan yang wajar dalam pernikahan. Jangan seperti main-main. Kalau namanya sandal jepit itu sepertinya main-main. Padahal pernikahan itu sangat sakral,’’ ujarnya dengan nada prihatin.

Fenomena pernikahan dengan maskawin yang terlihat nyeleneh ini, menurut Saiful Muslim, perlu dikaji secara mendalam oleh perguruan tinggi yang ada di NTB. Karena kejadian pernikahan yang menghebohkan ini bukan hanya terjadi sekali, tetapi ada beberapa kejadian yang berturut-turut.

‘’Kalau tujuannya supaya viral, maka itu permainan. Sementara, pernikahan adalah kegiatan yang sangat sakral. Jadi tak bisa dipermainkan. Hanya karena ingin viral, ingin dikenal orang. Jangan sampai orang berpikir seperti itu,’’ ujarnya.

Ia meminta pernikahan jangan menjadi ajang permainan atau hanya iseng-iseng dengan maskawin yang tak wajar. Apalagi, jika tujuannya supaya viral dan dibicarakan di mana-mana. ‘’Saya kira perlu dicermati betul. Apa motivasinya, sehingga melaksanakan kegiatan seperti itu,’’ imbuhnya.

Menurut Saiful Muslim, semiskin-miskin calon pengantin laki-laki, maskawin yang diberikan kepada calon istrinya pasti akan wajar. Tidak seperti fenomena yang terjadi belakangan ini. Daripada memberikan maskawin yang nyeleneh seperti itu, Saiful Muslim mengatakan lebih baik calon pengantin perempuan meminta maskawin seperangkat alat salat atau maskawin membaca Alquran.

Jika keluarga pengantin tidak punya pengetahuan tentang pernikahan. Mungkin bisa bertanya kepada penghulu atau tokoh agama di daerah setempat. Karena memang pernikahan adalah sunah rasul yang memiliki nilai kesakralan.

‘’Pernikahan ini kan sakral. Ketika mulai akad nikah, bersyahadat dulu, baca salawat dan disaksikan oleh banyak orang. Makanya mari kita jaga kesakralan pernikahan itu. Kalau ada pernikahan wajar-wajar saja. Kalau memang dia (laki-laki)  tidak ada kemampuan sama sekali, mahar itu bisa dibayar tunai dan tidak dibayar tunai,’’ jelasnya.

Masyarakat diharapkan dapat melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya. Pernikahan jangan dianggap seperti permainan. Ia menyayangkan sikap keluarga dari mempelai perempuan yang kelihatan membiarkan pernikahan seperti ini.

‘’Mestinya ada saran dari calon mertuanya, jangan seperti itu. Nanti ditertawakan orang, dianggap main-main. Ini kok dibiarkan. Makanya perlu dikaji motivasinya seperti apa,’’ katanya.

Selain itu, Saiful Muslim juga menyoroti pernikahan dua mempelai wanita sekaligus yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Menurutnya, pernikahan tak bisa dilaksanakan sekaligus.

Pernikahan mesti dilakukan satu per satu meskipun dalam hari yang bersamaan. Karena untuk pernikahan yang kedua status mempelai pria bukan lagi bujang, tetapi sudah beristri.

‘’Kalau pernikahan pertama, status laki-lakinya bujang. Tapi ketika nikah kedua, beda beberapa menit, status si laki-laki sudah suami orang. Ndak bisa dinikahkan sekaligus, dua orang jadi wali. Mesti ada jedanya. Selesai pernikahan yang satu, baru ke pernikahan selanjutnya. Ada jedanya. Artinya, status pengantin laki-laki berubah,’’ terangnya.

Ia berharap pernikahan yang menghebohkan seperti beberapa waktu lalu jangan sampai terulang di masa-masa mendatang. Pernikahan jangan dijadikan permainan. “Mudah-mudahan ke depan, tokoh agama di tempat tinggal pengantin bisa memberikan nasihat sebelum akad nikah,” harapnya. (nas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here