Fatimah, Bertahan Jual Sapu Ijuk Demi Sambung Hidup

Mataram (suarantb.com) – Di tengah maraknya investasi yang merangsek masuk daerah ini dan keberadaan pusat perbelanjaan yang terus bertambah, masih ada segelintir orang yang berjuang mencari sesuap nasi dengan menjual sapu ijuk keliling. Ialah Fatimah, wanita paruh baya yang menggantungkan hidup dari hasil berjualan sapu ijuk keliling.

Minggu sore, 9 Oktober 2016, hujan turun selama berjam-jam di Kota Mataram. Fatimah, yang melintas di kawasan Karang Baru, Mataram harus berulangkali berteduh menghindari curahan hujan dari langit. Kepada suarantb.com, mengaku berasal dari Dusun Ketapang, Desa Kekeri, Lombok Barat. Ia mulai menjajakan sapu ijuk keliling sejak enam tahun lalu.

Iklan

“Dulu saya kerja jadi pemecah batu. Sekarang sudah tidak kuat, jadinya jual sapu keliling saja,” ujarnya.
Ia mulai berangkat dari rumahnya pukul 08.00. “Tadi bawa enam sapu ijuk, masih sisa dua. Bawa sapu ijuk panjang dua, tapi belum laku satu pun,” jawabnya pasrah.

Selain sapu ijuk, Fatimah juga menjajakan sapu lidi. Sebanyak 13 sapu lidi kecil yang dibawanya laku terjual, sedangkan sapu lidi bergagang hanya laku dua. Semua itu dibawanya dengan dijunjung di atas kepala dan sisanya dijinjing.

Setiap harinya, Fatimah mulai berkeliling menjajakan dagangannya di daerah sekitar Rembiga dan Karang Baru, Kota Mataram. Jarak Ketapang-Rembiga-Karang Baru hingga pulang lagi ke Ketapang semuanya dilakukan dengan berjalan kaki. “Saya tidak berani pakai ojek, nanti kalau naik ojek untung saya habis buat ojek,” ujarnya.

Untuk satu sapu ijuk, Fatimah mengambil dari pembuatnya seharga Rp 6 ribu dan dijual Rp 7.500. Diakuinya untung bersih yang bisa diperolehnya sehari hanya Rp 25 ribu-Rp 30 ribu. Jumlah ini memang sangat terbatas untuk memenuhi biaya hidup dirinya dan satu anaknya.

Miris memang, ketika anak lelaki satu-satunya yang telah dewasa justru masih meminta uang pada Fatimah. “Anak saya umurnya sudah 20 tahun. Tapi memang anaknya masih suka main, belum mau serius kerja,” akunya. Perilaku anaknya ini tidak membuat wanita 50 tahun ini merasa terbebani untuk mencari nafkah. Terlebih lagi, ia juga sudah lama bercerai dengan sang suami. Jadi, ia sudah terbiasa bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan anaknya.

Kehidupan warga di desanya memang tidak jauh beda dengan Fatimah. Hampir semua warga Ketapang diakui Fatimah bekerja membuat sapu dan menjajakannya keliling kampung. Ada kalanya mereka bekerja sebagai buruh pemecah batu atau buruh bangunan jika bahan untuk membuat sapu tak tersedia.

“Jadi kalau belum ada uang buat beli ijuk atau bambu, mereka jadi pemecah batu atau buruh bangunan. Nanti bahan-bahan untuk sapu belinya di Dayen Gunung (Lombok Utara),” jelasnya.

Di sela percakapan tentang desanya, Fatimah menceritakan sebagian besar remaja disana tidak lulus sekolah. “Anak disana itu banyak yang tidak lulus sekolah. Banyak yang berhenti sekolah, melen merariq doang (ngebet nikah),” tambahnya.

Setelah puas bercakap-cakap, Fatimah kemudian pamit untuk pulang. Kembali dengan berjalan kaki, sambil menjajakan sisa dagangan sapunya. “Kalau sudah sore saya langsung pulang, tidak keliling lagi. Saudara saya juga marah kalau saya pulang malam-malam,” akunya sambil tersenyum.

Selama bercerita, Fatimah tidak menampakkan raut wajah sesal atau atas nasibnya. Justru kebanggaan yang ditunjukkannya. Bangga karena ia masih bisa mencari nafkah dengan cara yang halal untuk dirinya dan anak semata wayangnya. (ros)