Evaluasi Pelatda, Atlet Mengeluh Soal Izin

Andy Hadianto. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Panitia Pelatda 2020 menggelar rapat evaluasi hasil  Pelatda PON yang sudah berjalan  selama satu bulan di Sekretariat KONI NTB, Senin, 2 Maret 2020. Tercatat beberapa kendala non teknis yang dihadapi atlet, pelatih dalam mengikuti pemusatan latihan atlet persiapan mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua, 20 Oktober-2 November 2020 yang telah berjalan Sebulan.

Di antara masalah yang dihadapi atlet saat ini adalah terkait izin atau dispensasi yang belum dikeluarkan oleh instansi dan lembaga tempat atlet bekerja. Terutama atlet yang masih berstatus Pegawai Aparatur Negara (ASN) tak bisa maksimal latihan karena takut dianggap meninggalkan kerja tanpa izin. Padahal atlet sudah menunjuk surat disposisi Ketua KONI NTB, namun disposisi dari KONI NTB dinilai tak bisa menjadi dasar instansi untuk memberikan izin kepada atlet.

Iklan

Pihak KONI NTB bersama Pemprov NTB  selaku penyelenggara Pelatda PON 2020 diminta mencarikan solusi agar para atlet mendapatkan izin resmi dari tempat kerja supaya atlet  dapat mengikuti Pelatda PON di Mataram dengan maksimal.

Selain masalah izin atlet, pelatih Pelatda PON juga mengungkapkan soal transportasi atlet dari Rusunawa Batu Layar Lobar ke lokasi latihan di Mataram masih minim. Akibatnya sebagian atlet harus menggunakan motor untuk menuju tempat latihan.

Menanggapi soal itu, Ketua Panitia Pelatda PON, H. Andy Hadianto mengatakan dirinya akan mencarikan solusi soal persoalan tersebut. Menurutnya, soal izin atlet yang belum rampung, pihaknya akan meminta kepada dinas atau lembaga tempat atlet bekerja untuk menanggapi surat dispensasi yang dikeluarkan KONI NTB untuk atlet. Sehingga dengan begitu pihak KONI NTB dapat mencarikan solusi terkait izin atlet yang belum kelar.

“Terkait soal izin atlet yang belum keluar, terutama atlet yang berstatus PNS yang belum dapat izin dari Kepala Dinas mohon disampaikan alasan. Dibalas dengan surat jangan dibalas dengan lisan karena kami sudah bersurat secara resmi ke tempat instansi atlet bekerja. Kalau tidak diberikan izin, kita akan meminta penjelasan kepala kepegawaian daerah. Kita minta penjelasan pak Sekda atau pak Gubernur bagaimana bila Dinas tempat atlet bekerja tidak memberikan izin? Supaya kita bisa memutuskan, apakah atlet dicoret atau tidak,” tegasnya. (fan)