Etalase NTB, Program ‘’Zero Waste’’ Fokus di Kota Mataram

Ilustrasi sampah . (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Di tengah pandemi Covid-19, program NTB Zero Waste terus digenjot. Pemprov melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) memfokuskan program zero waste di tengah pandemi ini di Kota Mataram. Karena Kota Mataram merupakan wajah atau etalase NTB.

‘’Karena show window-nya provinsi adalah Kota Mataram. Jadi kita fokuskan di Kota Mataram. Kondisi kita yang dilanda Covid, keterbatasan  SDM dan anggaran. Kita fokus di Kota Mataram dengan kondisi yang sekarang,” kata Sekretaris Dinas LHK NTB, Samsudin, S. Hut, M. Si dikonfirmasi Suara NTB, Rabu, 26 Agustus 2020.

Iklan

Meskipun dalam kondisi Covid-19, kata Syamsudin, Dinas LHK harus tetap berlari mengejar target-target pengurangan dan penanganan sampah sesuai dengan rencana yang telah dibuat Pemprov. Dimana, pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sebesar 70 persen di akhir 2023.

“Kami tetap bekerja dengan komunitas seperti program bike to waste. Yaitu membersihkan sampah di lokasi-lokasi jalan strategis dan destinasi wisata unggulan,” ucapnya.

Khusus penanganan sampah di Kota Mataram, Samsudin mengatakan sumber daya dikerahkan ke ibukota provinsi NTB ini. Sesuai arahan Gubernur dan Wakil Gubernur, penanganan sampah harus fokus di tengah kondisi saat ini. Sehingga hasilnya dapat terlihat.

Sesuai kewenangan, kata Syamsudin, Pemprov menanganai masalah sampah di sungai-sungai dan kawasan strategis seperti jalan protokol dan destinasi wisata unggulan. Dengan keterbatasan anggaran, pihaknya menggandeng masyarakat dan Pokdarwis.

“Kita hanya sifatnya mendukung apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan kabupaten/kota.  Reulasi sudah kita siapkan. Kita juga sudah menandatangani kerjasama dengan kabupaten/kota dalam penanganan sampah,” tandasnya.

Tahun 2020, pengurangan sampah ditargetkan sebesar 15 persen. Namun sampai awal Juli lau baru tercapai 2  persen. Tahun 2019 lalu, pengurangan sampah ditargetkan sebesar 10 persen. Namun hanya tercapai 8,6 persen atau hampir 9 persen.

Sesuai roadmap atau peta jalan NTB zero waste 2019-2023, Pemprov memasang target ambisius pengurangan sampah mencapai 30 persen pada 2023. Dan penanganan sampah sebesar 70 persen pada 2023.

Untuk mencapai target pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sampah sebesar 70 persen pada 2023. Pemprov sudah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) No. 14 Tahun 2020 tentang Kebijakan dan Strategi Daerah (Jakstrada) Dalam Pengelolaan Sampah.

Jakstrada Pengelolaan Sampah tingkat provinsi tersebut memuat target pengurangan dan penanganan sampah masing-masing kabupaten/kota di NTB setiap tahun.

Dalam Jakstrada Pengelolaan Sampah 2019 – 2025, pengurangan sampah ditargetkan sebesar 20 persen pada 2019. Kemudian pada 2020 sebesar 22 persen, tahun 2021 sebesar 24 persen, tahun 2022 sebesar 26 persen, tahun 2023 sebesar 27 persen, tahun 2024 sebesar 28 persen dan tahun 2025 sebesar 30 persen.

Sedangkan untuk penanganan sampah pada 2019 ditargetkan 35 persen, tahun 2020 sebesat 40 persen, tahun 2021 sebesar 45 persen, tahun 2022 sebesar 51 persen. Selanjutnya tahun 2023 sebesar 57 persen, tahun 2024 sebesar 64 persen dan tahun 2023 sebesar 70 persen.

Data Dinas LHK NTB, proyeksi timbulan sampah per hari di NTB dari sisa makanan sebanyak 1.129,81 ton, plastik 385,16 ton, kayu/ranting/daun 333,18 ton, kertas 282,45 ton, lainnya 205,42 ton. Kemudian kain/tekstil 77,03 ton, logam 51,35 ton, karet/kulit 51,35 ton, kaca 51,35 ton. Proyeksi total timbulan sampah di NTB sebanyak 2.567,74 ton per hari.

Sedangkan jumlah bank sampah di NTB pada 2019 lalu sebanyak 372 unit. Terdiri dari 124 bank sampah binaan Dinas LHK NTB, 202 bank sampah usaha BUMDes dan 46 bank sampah mandiri. Tersebar di Lombok Utara 15 unit, Kota Mataram 20 unit, Lombok Barat 72 unit, Lombok Tengah 57 unit, Lombok Timur 128 unit, Sumbawa Barat 7 unit, Sumbawa 21 unit, Dompu 14 unit, Bima 35 unit dan Kota Bima 3 unit. (nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional