Erupsi Barujari, Ini yang Perlu Dilakukan

Mataram (Suara NTB) – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, resmi mengeluarkan laporan peningkatan aktivitas Gunung Rinjani dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Bersama dengan laporan ini, Badan Geologi pun mengeluarkan rekomendasi terkait hal-hal yang perlu dilakukan untuk menyikapinya.

Untuk diketahui, penetapan level aktivitas Gunung Rinjani menjadi waspada dikeluarkan menyusul sejumlah pertimbangan kondisi terakhir erupsi Gunung Barujari yang merupakan anak Gunung Rinjani.

Iklan

Dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh Badan Geologi, ditemukan bahwa tingkat kegempaan Gunung Rinjani sebelum erupsi secara umum memang tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Sebelum letusan, secara visual, tidak tampak hembusan maupun aktivitas permukaan lain yang mengindikasikan adanya anomali dari kawah Gunung Barujari.

Namun, ditemukan pula adanya potensi erupsi lanjutan yang diindikasikan dengan terekamnya gempa tremor hembusan dengan amplituda maksimum 2 – 5 mm dengan lama gempa 15 – 110 detik.

Dalam laporannya, Badan Geologi juga mengelaborasi potensi bencana yang mungkin terjadi. Disebutkan bahwa sejarah aktivitas erupsi Gunung Rinjani dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di Gunung Barujari yang terletak di dalam Kaldera Gunung Rinjani.

Dalam sejarah aktivitasnya, erupsi Gunung Rinjani mengindikasikan potensi ancaman bahaya berupa jatuhan piroklastik, hujan abu dan aliran lava. Daerah yang berpotensi terancam jatuhan piroklastik dan abu terletak di dalam kaldera, jatuhan abu juga dapat tersebar di sekeliling Gunung Rinjani tergantung pada arah angin.

“Ancaman bahaya secara tidak langsung berada di daerah utara Gunung Rinjani terutama di daerah aliran sungai Kokok Putih yang berhulu di area bukaan kawah. Erupsi di dalam kaldera dapat menyebabkan peningkatan muka air Danau Segara Anak yang selanjutnya berpotensi menyebabkan banjir bandang di Sungai (Kokok) Putih,” demikian disampaikan Badan Geologi dalam laporannya.

Karena itu, berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental, serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka mulai tanggal 27 September 2016 pukul 15:00 WITA, tingkat aktivitas Gunung Rinjani pun dinaikan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi tingkat aktivitas Gunung Rinjani.

Di akhir laporan tersebut, Badan Geologi pun memberikan sejumlah rekomendasi untuk dilaksanakan berbagai pihak terkait. Termasuk masyarakat pada umumnya.

Rekomendasi pertama, masyarakat di sekitar Gunung Rinjani dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan beraktivitas/berkemah di dalam Kaldera Gunung Rinjani dan di dalam radius 3 km dari kawah G. Barujari yang berada di dalam Kaldera Gunung Rinjani.

Rekomendasi kedua, jika terjadi hujan abu, masyarakat sebaiknya diam di dalam rumah, dan apabila berada di luar rumah disarankan memakai masker, penutup hidung dan mulut serta pelindung mata agar terhindar dari infeksi saluran pernapasan (ISPA) dan iritasi mata.

Rekomendasi ketiga, masyarakat di sekitar Gunung Rinjani diharap tenang dan tetap waspada, tidak terpancing isu-isu tentang erupsi Gunung Rinjani.

Rekomendasi keempat, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat dan BPBD Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara dalam memberikan informasi tentang kegiatan Gunung Rinjani.

Rekomendasi kelima, pemerintah daerah Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara, agar senantiasa berkoordinasi dengan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi melalui pos pengamatan Gunungapi Rinjani yang terletak di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung. (aan/r)