Enam Kecamatan Rawan Banjir

Intensitas hujan tinggi mengakibatkan rumah milik warga di Lingkungan Karang Buaya, Kelurahan Pagutan Timur akhir pekan kemarin tergenang. Lokasi ini menjadi langganan genangan setiap tahunnya. Pemkot Mataram tengah memetakan zona rawan untuk memberikan solusi jangka panjang. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram memetakan enam kecamatan rawan terjadinya banjir dan genangan. Kepala BPBD,Mahfuddin Noer menyampaikan, berdasarkan peta zonasi bencana berdasarkan pengamatan dan pemantauan peta geografis dan kondisi wilayah menjadi perhatian.

Di Kota Mataram dengan masing – masing kecamatan di break down ke kelurahan kondisi wilayah berbeda – beda. Dengan perbedaan itu muncul ancaman bencana. Ancaman bencana di Mataram adalah genangan air, meskipun sifatnya banjir ini isidentil. Berbeda halnya seperti angin puting beliung dua tahun terakhir terjadi di wilayah selatan seperti Pagutan dan Jempong. “Kalau puting beliung tidak bisa diprediksi. Dua terakhir ini paling rawan di wilayah selatan,” kata Mahmuddin.

Titik kerawanan banjir bila diamati hampir ada di setiap kecamatan, tetapi lebih kepada persentase pada ruang jalan. Hanya beberapa di lingkungan di Ampenan Tengah juga berpotensi timbulnya genangan. Kendati demikian, BPBD sudah memprediksi curah hujan tinggi bisa dipastikan titik – titik genangannya di lokasi sama. Sedangkan, pohon pelindung ini tergantung kondisi pohonnya. “Kebetulan terfokus di Jalan Sriwijaya pekan kemarin itu,” sebutnya.

Selama ini, lingkungan Karang Buaya menjadi langganan tiap tahun tetapi belum ada solusi jangka panjang. Menurut Mahmuddin, genangan itu ditimbulkan karena saluran di Karang Buaya menjadi air buangan dari arah Dasan Cermen. Sementara, saluran penghujung agak sempit.

Diskusinya bersama Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Miftahurrahman bahwa jika saluran di Jalan Prabu Rangkasari sampai sebelahh barat jalan dihidupkan atau dinormalisasi dan air diteruskan ke Kali Ancar dipastikan tidak akan timbul genangan. Konsekuensinya adalah harus memotong jalan mengarah ke Pagutan. “Bila itu ada pasti berkurang. Air tidak terbagi ke sana tapi melimpah ke Karang Buaya,” jelasnya.

Enam kecamatan diakui Mahmuddin, memiliki kerawanan tapi intensitasnya berbeda – beda tergantung dari cuaca dan curah hujan. Pengalaman di tahun 2019 lalu seperti wilayah di Sweta, Babakan dan Kekalik pernah diterjang banjir akibat luapan Sungai Unus. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan serta menjaga kebersihan lingkungan. (cem)