Enam Bangunan di Jalan Airlangga Dibongkar

Mataram (suarantb.com) – Tim terpadu Pemkot Mataram melakukan penertiban bangunan yang memanfaatkan ruang publik di Jalan Airlangga, Kamis, 15 September 2016 pagi. Pelanggaran bangunan di Jalan Airlangga tercatat sebanyak 61 titik. Namun bangunan yang dibongkar hanya enam titik.

Petugas yang dikerahkan untuk pembongkaran tersebut sekitar 80 orang. Tim terpadu berasal dari Satpol PP Kota Mataram, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Mataram, Dishubkominfo (Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika) Kota Mataram, BPMP2T (Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu) Kota Mataram, termasuk dari TNI, kepolisian, kejaksaan, dan pemerintah kelurahan.

Iklan

Puluhan bangunan yang sebelumnya tercatat melakukan pelanggaran telah melakukan penyesuaian setelah diberi peringatan. Dalam surat peringatan yang dilayangkan kepada pemilik bangunan beberapa bulan lalu, pemilik bangunan diminta membongkar sendiri bangunannya. Namun hingga batas waktu yang ditentukan pemilik bangunan tak melaksanakan pembongkaran sendiri, maka tim terpadu turun tangan membongkar.

Kepala Seksi (Kasi) Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan Perkotaan Dinas Tata Kota dan Pengawasan Bangunan (Takowasbang) Kota Mataram, Nanang Pujo Raharjo mengatakan beberapa bangunan telah mengubah kanopinya sehingga tidak mengganggu area parkir.

Keenam titik yang dibongkar ialah dua ruko tak berpenghuni, toko mainan anak, satu toko elektronik, meubel, dan warnet. Dari keenam bangunan yang dibongkar, beberapa pemilik bangunan sanggup melakukan pembongkaran sendiri dan merenovasi bentuk bangunan.

Nanang mengakui pihaknya kesulitan menemui pemilik bangunan yang melakukan pelanggaran tersebut. Pihaknya telah memberikan surat peringatan sejak bulan Mei 2016. Sehingga pada September mulai melakukan pembongkaran tanpa pemberitahuan.

“Sudah cukup lama kita persuasif, kita percayakan surat yang kita sampaikan itu sampai kepada pemilik,” ujarnya.

Pembongkaran dilakukan sebab ruang publik di Kota Mataram sudah mulai terganggu. Padahal salah satu kelebihan Kota Mataram dibanding kota-kota lainnya terletak pada ruang publiknya. Oleh sebab itu, Kota Mataram berusaha untuk mempertahankan hal tersebut.

“Kita bisa lihat kota-kota lainnya sudah hampir habis areal parkirnya,” terangnya.

Untuk bangunan pertokoan, ia mengaku tidak sulit ditertibkan, sebab bangunan toko sudah memiliki batas-batas tertentu dan area parkir sendiri. Namun permasalahan di Jalan Airlangga adalah banyak perumahan yang dialihfungsikan sebagai pertokoan. Sehingga perlu lebih lama dilakukan penyesuaian dan sosialisasi kepada pemilik bangunan.

Tidak ada protes dan tanggapan negatif dari pemilik bangunan atas pembongkaran tersebut. Sebab menurut Nanang, para pemilik telah mengakui pelanggaran yang dilakukan dan bersedia mengikuti kebijakan Pemkot Mataram.

Pembongkaran selanjutnya akan dilanjutkan secara bertahap ke Jalan Caturwarga, Jalan Panca Usaha dan Jalan Pejanggik. “Kita sudah lakukan peringatan sampai dua kali. Dan tinggal pelaksanaan pembongkaran saja,” jelasnya. (rdi)