Empat Prinsip Perencanaan dan Penganggaran Ahyar-Mori

Mataram (Suara NTB) – Sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, pasangan TGH. Ahyar Abduh dan H. Mori Hanafi, SE, M.Comm (Ahyar-Mori), tentu memiliki prinsip yang akan dijunjung tinggi dalam perencanaan, penganggaran hingga evaluasi kebijakan. Ada empat prinsip yang akan dijadikan acuan oleh pasangan Ahyar-Mori ini.

Empat prinsip itu adalah pro poor, pro job, pro growth dan pro environment. Keempatnya merupakan perpaduan prinsip-prinsip yang akan menjadikan program pembangunan di NTB menjadi komprehensif, dengan keberpihakan pada kelompok masyarakat yang lemah tanpa mengabaikan mereka yang berkecukupan.

Iklan

Lewat prinsip pro poor atau berpihak ke kaum miskin, alokasi anggaran akan didorong lebih besar untuk menuntaskan kemiskinan di NTB. Terkait hal ini, Calon Wakil Gubernur NTB, H. Mori Hanafi, SE, M.Comm dalam berbagai kesempatan mengutarakan skema anggaran yang akan diproyeksikan bisa menuntaskan kemiskinan.

Prinsip berikutnya adalah pro poor. Dimana kebijakan atau program harus berpihak pada perluasan lapangan kerja dan kemandirian masyarakat.

Kemudian, prinsip pro growth diwujudkan dalam program yang mendukung dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di sektor riil.

Lalu, ada prinsip pro environment, dimana seluruh program harus mengacu pada sistem yang berkelanjutan dan peduli pada kelestarian lingkungan.

Prinsip-prinsip ini antara lain terwujud dalam berbagai program yang telah disusun pasangan Ahyar Mori.

Misalnya saja, program melahirkan 10.000 wirausahawan desa (villagepreneur) dan menggagas 1.000 Koperasi Syari’ah Masjid.

Lalu, ada pula program membangun Daerah Khusus Bisnis UMKM dan Menggalakkan Gerakan Pakai dan Cinta Produk Lokal NTB.

Program lain adalah mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus Daerah (Samota, Sakosa, Kawasan Ama Hami Teluk Bima), Program 1 Desa, 1 BUMDes.

Kemudian, menciptakan 100 Desa Wisata yang tersebar di 10 Kabupaten/Kota di Provinsi NTB guna mendukung Program Wisata Halal dan program NTB WoouW.

Program NTB WoouW ini diarahkan pada pengembangan pariwisata massal berkelanjutan yang berkesimbangan dengan pariwisata halal, tematik, dan minat khusus pada semua potensi wisata unggulan.

Demi menjunjung tinggi prinsip pro environment, pasangan Ahyar-Mori juga menyiapkan program pemanfaatan SDA dan Lingkungan Hidup secara produktif, efisien, optimal, dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian dan berkelanjutan.

Kemudian, rehabilitasi hutan dan lahan, pelestarian keanekaragaman hayati, rehabilitasi dan konservasi daerah-daerah rawan bencana, dan upaya-upaya mitigasi dan adaptasi bencana juga menjadi catatan penting bagi pasangan ini.

Selain itu, pasangan Ahyar-Mori juga bertekad melanjutkan pembangunan jaringan irigasi, embung- embung rakyat, dan bendungan untuk menunjang keberadaan Provinsi NTB sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Semua program ini dikemas dalam rumpun program NTB Lestari.

Selain itu, ada pula rumpun program NTB Lancar, dengan sejumlah program. Antara lain, penyediaan infrastruktur jalan Tol Mataram – Lombok Timur yang memadai dan aksesibel antar keseluruhan wilayah.

Kemudian, pembangunan jaringan jalan baru untuk kawasan pusat Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa sebagai antisipasi atas konektivitas yang makin baik antar pulau-pulau di Indonesia. Berikutnya, mendukung pembangunan tol laut Pelabuhan Kayangan – Poto Tano dan mengintegrasikannya dengan Pembangunan Global Hub Bandar Kayangan di Kabupaten Lombok Utara sebagai perwujudan Poros Maritim.

Lalu, ada pula program peningkatan kualitas pelayanan dan fasilitas semua Bandar Udara. Selain itu, pasangan Ahyar-Mori juga mendorong perbaikan jalan-jalan provinsi dan pembangunan jalan baru untuk memperlancar arus lalu lintas dan membuka akses daerah terisolir, kawasan wisata, dan wilayah kaya Sumber Daya Perkebunan. (tim)