Embulan Borok, Legenda Tempat Pemandian Dewi Anjani

0
Pemandian Embulan Borok Desa Anjani Kecamatan Suralaga Kabupaten Lotim. (Suara NTB/rus)

Embulan Borok Desa Anjani menjadi pilihan berwisata menarik. Kolam pemandian yang dibangun Pemerintah Desa Anjani ini mulai ramai dikunjungi. Apalagi saat liburan dan setiap akhir pekan, pemandian yang berlokasi di Dusun Anjani Timur Dua sangat ramai dikunjungi.

KEPALA Desa Anjani, Muhammad Said menuturkan, mata air Embulan Borok ini bukanlah tempat sembarangan. Tempat ini konon dulu menjadi tempat pemandian Dewi Anjani. Dewi cantik yang dipercaya sebagian masyarakat Sasak menjadi penjaga Gunung Rinjani. Nama Desa Anjani ini sendiri juga disematkan dari nama Sang Dewi.

IKLAN

Semasa kecil dulu, ujarnya, lokasi tempat pemandian Dewi Anjani ini sudah ramai dikunjungi orang. Mata air besar ini juga cukup dikeramatkan oleh sejumlah warga. Tidak sedikit orang datang dari berbagai daerah membawa sesajen. Membawa makanan dan menggelar acara di lokasi tersebut.

“Keyakinan masyarakat, Embulan Borok ini merupakan tempat yang dikeramatkan sama orang tua,” sebutnya.

Warga yang datang antara lain dari Sakra, Sumbawa, Suralaga dan lainnya. Mendatangi Embulan Borok ini tidak bisa sembarangan. Konon, ada penunggu dari alam sebelah yang tidak menginginkan orang-orang dengan niat yang tidak baik datang.

Pemerintah Desa Anjani kini sudah menyulap mata air Embulan Borok menjadi lokasi pemandian dihabiskan dana sebesar Rp 1,5 miliar. Sampai sekarang sudah enam bulan lamanya lokasi pemandian untuk masyarakat umum ini menjadi salah satu tujuan berwisata. Angka kunjungan per hari ratusan bahkan sampai ribuan orang. “Kalau hari Minggu, kita tidak kedapatan tempat duduk,” klaimnya.

Di atas tanah pecatu desa seluas 70 area, kolam pemandian Embulan Borok milik Desa Anjani ini telah berhasil mendatangkan sumber Pendapatan Asli Desar (PADes). Rata-rata dari karcis masuk bisa tembus Rp 30 juta per bulan. “Kalau dihitung bersih setelah potong biaya operasional per bulan, Rp 12-15 juta per bulan PADes kita,” sebut Said.

Dihitung, dari total biaya pembangunan, tambahnya, dibutuhkan waktu sekira empat tahun ke depan dengan rata-rata pendapatan sekarang akan kembali modal. Harapannya, objek wisatanya itu tetap ramai dikunjungi. Pihaknya pun bersiap untuk mengembangkan terus lokasi wisata tersebut menjadi kawasan lebih menarik. (rus)