Ekspor Atas Nama Daerah Lain, Kapal Pengangkut Jagung akan Dihadang

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB melalui Dinas Perdagangan akan menghadang  kapal pengangkutan jagung keluar dari Pelabuhan Badas dan Pelabuhan Bima. Dinas Perdagangan telah berkoordinasi dengan Bea Cukai dan Dinas Perhubungan untuk mengawasi pengusaha yang mengekspor jagung dari dua pelabuhan di Pulau Sumbawa tersebut.

Kepala Dinas Perdagangan NTB, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M. Si mengatakan langkah ini dilakukan kepada pengusaha ekspor yang tidak mengurus Surat Keterangan Asal (SKA) barang ekspor tersebut. Sebelumnya, Dinas Perdagangan sudah melayangkan protes kepada pengusaha asal Surabaya yang mengekspor jagung sebanyak 11.500 ton lewat Pelabuhan Badas beberapa waktu lalu.

Iklan

Pasalnya, ekspor 11.500 ton jagung asal Sumbawa itu atas nama Jawa Timur. Karena pengusaha yang melakukan ekspor menggunakan SKA dari Jawa Timur. “Saya sudah minta, berkoordinasi dengan Bea Cukai dan Dinas Perhubungan,  harus ada SKA dulu baru bisa lolos barangnya,” kata Selly ketika dikonfirmasi di Mataram, Senin, 2 April 2018 siang.

Setelah ekspor perdana jagung belasan ribu ton beberapa waktu lalu, kata Selly,  pengusaha asal Surabaya Jatim kembali akan mengekspor jagung dari Pelabuhan Bima. Namun, Selly sudah meminta agar pengusaha tersebut mengurus SKA dulu di Dinas Perdagangan NTB.

Ia menjelaskan, penerbitan SKA cukup mudah. Syaratnya cukup dengan surat Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) dari Bea Cukai, invoice dan packing list. Menurut mantan Penjabat Walikota Mataram ini, pengurusan SKA tersebut tidak ada yang sulit. Bahkan, petugas dari Dinas Perdagangan akan siap melayani meskipun hari Sabtu dan Minggu.

Selly menjelaskan, pentingnya SKA tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag). Berdasarkan aturan yang ada, barang yang diekspor, SKA-nya  harus berasal dari asal barang. “Sekarang, untuk ekspor jagung selanjutnya  harus mengurus SKA dulu, baru bisa ngirim,” tegasnya.

Ditambahkan, Dinas Perdagangan akan mengutus staf ke Bima dan Sumbawa memantau hal ini. pasalnya, ekspor jagung dari NTB dengan atas nama daerah lain sangat merugikan daerah ini. karean di negraa tujuan, barang tersebut tercatat bukan berasal dari NTB.

“Kalau kita mau neraca perdagangan bagus, iya harus masuk negara tujuan barang. Kita rugi nama. Tidak ada nama NTB. Percuma, di sini kita teriak ekspor-ekspor. Ternyata di daerah tujuan barang tak ada nama NTB,” katanya.

Seperti diketahui, pada tahun ini NTB menargetkan ekspor jagung ke Filipina sebesar 300 ribu ton.  Pada ekspor perdana beberapa minggu lalu, telah dikirim sebanyak 11.500 ton jagung hasil produksi petani di Sumbawa dan Sumbawa Barat. (nas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here